"Dalam politik, tak ada kawan atau lawan abadi; yang abadi hanyalah kepentingan."sering dikaitkan dengan Winston Churchill.

____________

Kutipan tersebut agaknya cukup tepat untuk membaca atmosfer di sejumlah grup WhatsApp yang beranggotakan pelaku media, wartawan, aktivis, pegiat LSM, advokat, serta pejabat di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, yang belakangan kian memanas.

Ya, kisruh anggaran advertorial belakangan ibarat sebuah panggung boneka. Seolah Hambali Mata yang memulainya dan, tiba-tiba semua ikut bergerak. Saling menunjuk. Saling curiga. Bahkan saling menyerang. Padahal di balik layar, ada tangan yang menarik tali.

Ada yang bicara idealisme, ada yang bicara keadilan, dan ada pula yang sibuk menghitung siapa memperoleh berapa.

Beredarnya data penerima anggaran advertorial ini cukup membuka mata banyak pihak. Ada media yang memperoleh Rp4 juta, Rp6 juta, Rp10 juta, Rp15 juta, hingga Rp25 juta setahun. Ada pula yang menerima jatah jauh lebih besar, seperti Harian Birawa Rp40 juta, JTV Madura Rp200 juta, Memo X Rp250 juta, dan Kabar Madura Rp300 juta.

Angka-angka itu lantas memicu kecemburuan. Media online mempertanyakan keadilan distribusi anggaran. Media cetak menjadi sasaran tembak. Grup-grup WhatsApp wartawan, aktivis, dan LSM mendadak riuh.

Tetapi, di tengah kegaduhan itu, ada satu pertanyaan yang justru luput dibahas: mengapa data itu tidak memuat seluruh pemain besar?

Mengapa hanya sebagian kartu yang dibuka?

Mengapa nama media yang selama ini diyakini memperoleh porsi advertorial jauh lebih besar justru tidak muncul ke permukaan?