dimadura
Beranda Tomang Sumenep Legislator Muda Sumenep Beberkan Makna May Day 2026 Lebih Mendalam

Legislator Muda Sumenep Beberkan Makna May Day 2026 Lebih Mendalam

Cropped Cropped Dimadura Logo2 1 150X150 1NEWS SUMENEP, DIMADURA–Anggota DPRD Sumenep, Akhmadi Yasid, memaknai Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan momentum refleksi serius terhadap posisi pekerja dalam sistem ekonomi saat ini.

‎Menurut legislator tersebut, di tengah narasi pertumbuhan ekonomi dan masuknya investasi, masih banyak pekerja yang menghadapi persoalan mendasar.

‎“Kita bicara pertumbuhan dan investasi, tetapi di sisi lain masih ada pekerja yang menghadapi persoalan klasik, seperti upah yang belum sepenuhnya layak, kepastian kerja yang rapuh, serta perlindungan fisik dan mental yang belum menjadi prioritas,” jelas Yasid, Kamis (30/4/2026) saat di hubungi.

‎Ia menegaskan, pembangunan seharusnya tidak hanya diukur dari angka-angka makro ekonomi.

‎Lebih dari itu, kata Yasid, indikator keberhasilan pembangunan adalah sejauh mana pekerja merasa aman, dihargai, dan memiliki masa depan yang jelas.

‎Dirinya juga menyoroti tantangan yang muncul seiring perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI) dan robotika.

‎Menurut mantan jurnalis tersebut, kemajuan teknologi merupakan keniscayaan yang tidak bisa dihindari.

‎“Kita tidak bisa menolak teknologi, tetapi juga tidak boleh membiarkannya menggerus hak-hak pekerja,” kata dia.

‎Yasid menekankan pentingnya transformasi kebijakan yang berjalan beriringan dengan transformasi teknologi.

‎Dalam hal ini, negara dan pemerintah daerah harus hadir memastikan pekerja tidak tertinggal.

‎“Harus ada reskilling dan upskilling. Jangan sampai kemajuan teknologi justru menciptakan ketimpangan baru,” ujarnya.

‎Dalam upaya menciptakan lapangan kerja baru, Yasid menilai pendekatan lama tidak lagi relevan.

‎Ia mendorong penguatan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), ekonomi kreatif, serta sektor berbasis potensi lokal.

‎Khusus untuk Sumenep, Yasid melihat masih banyak potensi yang belum dimaksimalkan, mulai dari sektor pertanian, perikanan, hingga pariwisata berbasis kearifan lokal, termasuk ekonomi pesantren.

‎“Yang perlu kita dorong adalah hilirisasi, tidak hanya produksi tetapi juga pengolahan. Selain itu, akses permodalan dan pelatihan keterampilan harus diperkuat,” tegas dia.

‎Ia juga menegaskan pentingnya keberpihakan terhadap tenaga kerja lokal dalam setiap investasi yang masuk ke daerah.

‎“Pemerintah daerah dan legislatif harus memastikan regulasi tidak menghambat, investasi masuk secara sehat, dan masyarakat lokal menjadi bagian utama, bukan sekadar penonton,” ucap Yasid.

‎Dalam momentum Hari Buruh 2026, Yasid menyampaikan pesan kepada perusahaan agar memandang pekerja sebagai mitra strategis.

‎“Pekerja bukan sekadar faktor produksi, tetapi mitra dalam keberlanjutan usaha. Kesejahteraan pekerja bukan beban, melainkan investasi jangka panjang,” tuturnya.

‎Sementara kepada para pekerja, ia mengajak untuk terus meningkatkan kapasitas, menjaga solidaritas, dan memperjuangkan hak secara bermartabat.

‎Menurut Yasid, Hari Buruh harus menjadi ruang untuk membangun keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keadilan sosial.

‎“Pada akhirnya, kemajuan yang sejati adalah ketika semua pihak bisa berjalan bersama,” pungkasnya.***

Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.

Follow
Komentar
Bagikan:

Konten Iklan