“Orangnya humble sih, Kak. Itu aja, juga saling tolong-menolong ke temannya yang susah.”

 

Hanya itu yang mula-mula diingat S tentang Moh. Firman Ramadhani saat menceritakan sosok Dani kepada media ini, Selasa (20/10).

Tak ada cerita tentang kehebatan atau sesuatu yang luar biasa. Pemuda yang akrab disapa Dani itu dikenang melalui hal paling sederhana: kesediaannya membantu orang lain.

Pada momen Hari Santri Nasional tahun ini, ketika pengabdian para santri kembali menjadi perbincangan, Dani justru dikenang melalui kepergiannya.

Di lingkungan pesantren, Dani menjalani hari-harinya sebagai abdi dalem. Ia bertugas di bagian laundry dalem kiai. Pekerjaan yang jauh dari sorotan, tetapi menjadi bagian dari pengabdiannya. Di sana, ia dikenal rendah hati dan ringan tangan.

Kini, rutinitas itu tinggal kenangan. Dani meninggal dunia pada Selasa, 13 Oktober 2026, setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Baghraf Health Care (BHC) Sumenep. Usianya baru 22 tahun.

Ada ironi dalam kisah pemuda asal Desa Lenteng Timur, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, tersebut. Ia terbiasa menolong teman yang kesulitan. Namun, ketika dirinya membutuhkan pertolongan, hidupnya justru berakhir di rumah sakit.

S, seorang teman Dani yang meminta identitasnya dirahasiakan, mengaku tidak begitu akrab dengan almarhum. Meski demikian, ia masih mengingat sejumlah kejadian menjelang kepergian santri itu.

Ingatan tersebut bermula dari perubahan perilaku yang terlihat beberapa hari sebelum Dani jatuh sakit.

“Beberapa hari sebelum almarhum masuk rumah sakit, ia sering mondar-mandir, entah apa tujuannya,” tutur S kepada redaksi estoria.id, Selasa (20/10/2026).

Tak seorang pun, setidaknya dalam pengetahuan S, memahami apa yang sedang dirasakan Dani ketika itu. Ia hanya melihat temannya lebih sering bergerak ke sana kemari.

Beberapa jam sebelum dibawa berobat, gelagatnya semakin berbeda. Dani lebih banyak diam, sesekali merenung dengan tangan memegangi perut.

“Beberapa jam sebelum dibawa ke rumah sakit, almarhum sering bengong, merenung, dan gelisah seraya memegang perutnya,” katanya.

Kegelisahan itu kemudian disusul muntah.

“Selang beberapa menit, tiba-tiba almarhum muntah,” ujar S.

S tak lagi mengingat warna muntahan tersebut. Ia hanya mengetahui Dani memiliki riwayat penyakit lambung sejak duduk di bangku SMA.

Pertolongan dari Teman-Teman

Melihat keadaan Dani, sejumlah teman yang berada di bagian laundry segera bertindak. Mereka membawanya ke Klinik Pratama Annuqayah.

Namun, perjalanan mencari pertolongan belum selesai. Dani harus dirujuk ke RS BHC Sumenep karena kondisinya disebut tidak dapat ditangani di klinik tersebut.

“Oleh teman-teman yang ada di laundry dibawa ke Klinik Pratama Annuqayah. Oleh pihak klinik tidak mampu dan langsung dirujuk ke rumah BHC Sumenep,” kata S.

Sejak itu, S tak lagi mengetahui secara terperinci apa yang dialami Dani selama menjalani perawatan.

Kabar berikutnya justru menjadi kabar duka. Pemuda yang sehari-hari mengurus pekerjaan laundry di lingkungan dalem kiai itu meninggal dunia.

Kepergiannya menyisakan kesedihan bagi orang-orang yang mengenalnya. Bagi keluarga, duka tersebut belum sepenuhnya memperoleh jawaban. Hingga sepekan setelah kematian Dani, mereka masih menantikan penjelasan dari pihak RS BHC Sumenep mengenai penanganan yang diterima almarhum.

Yang Tertinggal dari Dani

S tidak memiliki banyak cerita tentang kehidupan pribadi Dani. Ia pun tak berusaha menggambarkan almarhum sebagai sosok yang sempurna.

Dalam ingatannya, Dani adalah pemuda biasa yang menjalani pengabdian di pesantren. Ia bekerja, bergaul, dan membantu teman yang membutuhkan.

Kesederhanaan itulah yang membuat kesaksian S terasa dekat. Kebaikan Dani tidak hadir sebagai peristiwa besar. Ia menjadi bagian dari keseharian yang barangkali dahulu luput diperhatikan.

Kini, setelah pemuda itu pergi, hal-hal kecil tersebut memperoleh tempat tersendiri dalam ingatan.

Di bagian laundry, tempat Dani menghabiskan sebagian waktunya, teman-temannya pernah melihat ia gelisah dan kesakitan. Dari lingkungan yang sama, mereka pula yang bergegas mencarikan pertolongan.

Ada semacam pertautan yang getir di sana. Dani pernah hadir untuk membantu orang lain. Pada hari-hari terakhir hidupnya, giliran teman-temannya yang berusaha menyelamatkan dia.

Namun, pertolongan itu tak mampu mengantarkannya pulang dalam keadaan hidup.

Dani telah pergi. Yang tertinggal adalah kenangan tentang seorang abdi dalem, pekerjaan sederhana yang dijalaninya, serta kebaikan yang masih diingat seorang teman.

Dan, di balik semua itu, ada keluarga yang masih menunggu jawaban atas kepergiannya.

Seorang santri yang semasa hidupnya suka menolong, pada akhirnya tak tertolong. ***