dimadura
Beranda Okara PC IPNU Sumenep Ikut Angkat Suara, Tolak Rencana Pilkada Tidak Langsung

PC IPNU Sumenep Ikut Angkat Suara, Tolak Rencana Pilkada Tidak Langsung

Foto: Pengurus PC IPNU Sumenep, Febrianto. (Doc. Dimadura).

Cropped Cropped Dimadura Logo2 1 150X150 1NEWS SUMENEP, DIMADURA–Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PC IPNU) Kabupaten Sumenep menyatakan penolakan terhadap wacana pemilihan kepala daerah (pilkada) tidak langsung melalui Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

‎Mereka menilai skema tersebut berpotensi melemahkan prinsip kedaulatan rakyat dalam sistem demokrasi.

‎Penolakan itu disampaikan sebagai bentuk kepedulian pelajar Nahdlatul Ulama terhadap keberlangsungan demokrasi dan hak politik warga negara.

‎Mereka menegaskan, pilkada langsung merupakan capaian penting dalam perjalanan demokratisasi Indonesia yang tidak semestinya ditarik kembali.

‎Pengurus PC IPNU Sumenep, Febrianto, mengatakan pilkada langsung adalah hasil dari perjuangan panjang bangsa untuk membuka ruang partisipasi rakyat dalam menentukan pemimpin daerah.

‎Menurut dia, pengalihan mekanisme pemilihan kepada DPR justru berisiko mempersempit hak konstitusional masyarakat.

‎“Pilkada langsung merupakan wujud kedaulatan rakyat. Mengembalikan pemilihan kepala daerah kepada mekanisme DPR berpotensi mengurangi peran publik dalam menentukan arah kepemimpinan daerah,” kata Febrianto, Rabu, (14/1/26).

‎Febrianto menambahkan, dalam perspektif Ahlussunnah wal Jama’ah, kekuasaan dipandang sebagai amanah yang harus dijalankan demi kemaslahatan umat.

‎Karena itu, setiap kebijakan publik semestinya berpijak pada kepentingan rakyat luas.

‎Ia merujuk pada kaidah fikih tasarruful imām ‘ala ar-ra’iyyah manūṭun bil-maṣlaḥah, yang menegaskan bahwa kebijakan seorang pemimpin harus berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.

‎Dalam konteks tersebut, PC IPNU Sumenep menilai pilkada langsung masih relevan sebagai sarana menjaga kepentingan publik.

‎Meski mengakui pelaksanaan pilkada langsung masih memiliki sejumlah kekurangan, PC IPNU Sumenep menilai hal itu tidak dapat dijadikan alasan untuk memangkas hak politik warga negara.

‎“Kekurangan dalam pelaksanaan seharusnya dijawab dengan perbaikan sistem, bukan dengan menghilangkan prinsip dasarnya,” ujar Febrianto.

‎Ia menegaskan, dalam tradisi Aswaja, persoalan tidak diselesaikan dengan meniadakan prinsip, melainkan melalui ishlah atau perbaikan yang berkelanjutan agar tujuan kemaslahatan tetap terjaga.

‎Febrianto juga mengingatkan pemikiran almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang menempatkan demokrasi sebagai instrumen penting untuk menjaga martabat manusia dan menjamin hak-hak warga negara.

‎Oleh sebab itu, menurut dia setiap kebijakan yang berpotensi mempersempit ruang partisipasi publik dinilai perlu dikaji secara matang dan komprehensif.

‎Lebih lanjut,Febrianto menegaskan bahwa sikap penolakan tersebut disampaikan secara santun, konstitusional, dan beradab.

‎Mereka menolak pendekatan konfrontatif, namun tetap merasa berkewajiban menyuarakan pandangan kritis sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan intelektual pelajar.

‎“PC IPNU Sumenep menolak pilkada tidak langsung dan mendorong negara untuk memperkuat demokrasi melalui pendidikan politik, penegakan hukum, serta tata kelola pemerintahan yang bersih dan berintegritas,”jelasnya.

‎Pihaknya berharap para pemangku kebijakan tetap menjunjung tinggi prinsip demokrasi, kedaulatan rakyat, dan kemaslahatan umat dalam setiap pengambilan keputusan strategis yang menyangkut masa depan bangsa.***

Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.

Follow
Komentar
Bagikan:

Konten Iklan