dimadura
Beranda Tomang Sumenep Penjurian Festival Musik Tong-Tong Sumenep Dinilai Tak Lazim, Penonton Ungkap Kejanggalan

Penjurian Festival Musik Tong-Tong Sumenep Dinilai Tak Lazim, Penonton Ungkap Kejanggalan

‎Foto: Festival Kreatif Aransemen Musik Tong-Tong Lagu Bupati Sumenep 2026 bertajuk “Madura Open”, (Ar/Doc. Dimadura).

Cropped Cropped Dimadura Logo2 1 150X150 1NEWS SUMENEP, DIMADURA–Pelaksanaan Festival Kreatif Aransemen Musik Tong-Tong Lagu Bupati Sumenep 2026 bertajuk “Madura Open” dengan total hadiah Rp12 Juta menuai sorotan dari sejumlah penonton. Sabtu (30/5/26) tadi malam.

‎Mereka menilai aspek transparansi penjurian dalam ajang tersebut masih perlu diperbaiki agar hasil perlombaan dapat diterima seluruh peserta dan masyarakat secara objektif.

‎Festival yang digelar di LKS Gotong Royong, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, itu berlangsung pada malam hari dan diikuti tujuh kelompok musik.

‎Sebelumnya, panitia mencatat terdapat delapan peserta yang terdaftar, namun satu peserta tidak hadir saat pelaksanaan.

‎Adapun kelompok tersebut antara lain, Siding Puri, Sepensa, Ata’ Kalaras, Raden Nawa Sena, Peccot Ngamok, Dewa Piking, Laskar Sadewo, dan Tapak Agung.

‎Salah seorang penonton yang meminta identitasnya disamarkan dengan nama Tria mengaku kecewa terhadap proses penjurian yang berlangsung hingga sekitar satu jam lebih.

‎Menurut dia, minimnya keterbukaan dalam penyampaian hasil penilaian memunculkan berbagai spekulasi di kalangan peserta maupun penonton.

‎”Jujur saya sudah sering melihat dan menyaksikan festival serupa, ini kan masuk kegiatan Kalender event dengan anggaran besar tetapi hasilnya sering kali membingungkan dan mencengangkan, bahkan di luar ekspektasi penonton,” ucap Tria.

‎Ia menilai penyelenggara seharusnya menyediakan papan skor atau rekapitulasi nilai yang dapat diakses publik selama maupun setelah perlombaan berlangsung.

‎Dengan demikian, kata dia, peserta dan masyarakat dapat mengetahui dasar pertimbangan dewan juri dalam menentukan pemenang.

‎”Sangat disayangkan, ajang sebesar ini tidak memiliki papan skor atau rekapitulasi nilai yang terbuka untuk publik. Penonton dan peserta berhak mengetahui dasar keputusan dewan juri, bukan hanya menerima hasil akhir tanpa penjelasan yang memadai,” sampainya.

‎Menurut Tria, festival musik tong-tong semestinya menjadi ruang pengembangan kreativitas, inovasi, dan kualitas musikalitas para peserta.

‎Dirinya berharap aspek-aspek seperti aransemen, progresivitas musik, kreativitas, dan karakter pertunjukan menjadi indikator utama dalam proses penilaian.

‎”Festival seharusnya berorientasi pada pengembangan musikalitas. Jika unsur kreativitas, progresivitas, dan kualitas aransemen menjadi fokus utama, tentu hasil penilaian akan lebih mudah dipahami oleh peserta maupun penonton,” tutur di.

‎Sorotan terhadap transparansi penjurian tersebut, lanjut Tria, menjadi masukan penting bagi penyelenggara agar pelaksanaan festival seni dan budaya di masa mendatang dapat berjalan lebih akuntabel, terbuka, dan mampu menjaga kepercayaan publik.

‎Festival Kreatif Aransemen Musik Tong-Tong sendiri merupakan salah satu ajang yang menjadi wadah ekspresi dan kreativitas kelompok musik tradisional di Kabupaten Sumenep.

‎”Karena itu, kami nilai penyelenggaraan yang profesional dan transparan sangat penting untuk menjaga semangat kompetisi sekaligus mendorong perkembangan seni musik tong-tong di daerah,” tegasnya.

‎Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait. Sementara Kepala Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, Faruk Hanafi, Sumenep sebagai pihak penyelenggara masih belum merespon saat dikonfirmasi.***

Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.

Follow
Komentar
Bagikan:

2

Konten Iklan