SEJARAH, DIMADURA – Nama sebuah tempat kerap kali menyimpan jejak sejarah yang panjang, mencerminkan pergulatan zaman dan budaya yang silih berganti. Begitu pula dengan Sumenep, sebuah kota di ujung timur Madura yang menyimpan kisah etimologis menarik.

Dalam Kitab Pararaton, nama Songennep awalnya disebut sebagai Sungennep, yang kemudian mengalami perubahan pelafalan menjadi Sumenep.

Seiring berjalannya waktu dan pengaruh Belanda, nama itu bergeser menjadi Sumanap, sebelum akhirnya lebih dikenal dengan sebutan Sumenep yang digunakan hingga kini.¹

Pada periode 1648-1672, Sumenep diperintah oleh Adipati Yudonegoro, cucu dari Pangeran Lor I. Ia menikah dengan Nyè Kanè, putri Kiai Jumantara yang juga merupakan saudari Pangeran Trunojoyo dari Sampang.²

Karena kecantikannya, Nyè Kanè dijuluki "Nyè Sumekar". Sejak saat itu, nama Sumenep sering dikaitkan dengan sebutan Sumekar, meskipun dalam kajian etimologis, akar katanya merujuk pada makna yang berbeda.

Secara linguistik, kata Sungennep berasal dari dua unsur bahasa Jawa Kuno: sung atau song, yang berarti rongga, lubang, atau tempat berlabuh, dan enep, yang berkaitan dengan ketenangan, kedalaman, atau sesuatu yang mengendap.³

Jika digabungkan, Sungennep bermakna "tempat berlabuh yang tenang" atau "tempat yang aman untuk kapal berlabuh". Bahkan, dengan tambahan prefiks su- yang berarti baik, Sungennep dapat diartikan sebagai "pelabuhan yang baik".

Secara geografis, Sumenep memang berdekatan dengan wilayah pesisir, hanya sekitar 5 km dari pantai Kertasada, sehingga kemungkinan besar dulunya merupakan kawasan maritim yang strategis.

Menurut RB Mukaram, budayawan Keraton Sumenep, wilayah selatan dan timur Sumenep pada awalnya adalah laut atau pantai.

Hal tersebut diperkuat dengan adanya beberapa nama kampung yang mencerminkan kondisi geografis tersebut, seperti Saghâran yang berarti laut, Mastasè' dari kata tasè' (laut), Kolor yang bermakna "menjulurkan"—merujuk pada tarikan perahu.⁴