Karangrabâ yang berarti "tempat berawa", Bâ'aná¸ing yang menggambarkan perahu menunggu angin laut, serta Marèngan yang berasal dari kata marèngè aèng atau "tempat memberi air pada tukang perahu".
Nama-nama di atas memperkuat teori bahwa Sumenep di masa lalu adalah daerah pesisir yang aktif dalam aktivitas pelayaran.
Dalam konteks historis, Sumenep kemungkinan besar merupakan kota pelabuhan yang penting pada zamannya.
Sebelum mengalami perubahan garis pantai, Sumenep dan Kalianget menjadi pusat perdagangan maritim yang ramai, menghubungkan Madura dengan daerah pesisir utara Jawa seperti Tuban dan Ujung Galuh (Surabaya).
Banyak kapal dagang yang berlabuh dan melakukan transaksi di pelabuhan ini, yang diperkuat dengan adanya desa bernama Pabian, yang berasal dari kata pabhiyân atau "tempat penarikan bea/pajak perahu dagang".âµ
Jejak sejarah ini menunjukkan bahwa kata "Sumenep" merupakan representasi dari peran strategisnya dalam jaringan maritim Nusantara.
Dari sebuah pelabuhan penting hingga menjadi kota yang dikenal dengan warisan budayanya, Sumenep --yang dulunya bernama Songennep--tetap menyimpan cerita panjang yang menarik untuk terus ditelusuri oleh sejarawan dan pecinta sejarah. (*)
Referensi:
¹. Kata Songennep berdasarkan buku Werdisastra yang berjudul "Babad Songennep dengan carakan Madura atau hurup Jawa", (1914). ². Cabang ilmu linguistik yang mempelajari asal usul suatu kata. ³. Tim Penulis, "Sejarah Sumenep", (2002). â´. Drs. Abdurrahman, "Madura Selayang Pandang", (1971). âµ. Tadjul Arifien R, "Dinasti Arya Wiraraja", hlm. 37-38, (2022).