Dalam oretan sederhana itu, seolah ada yang mengendap sebagai gugatan, juga pelarian. Di tengah gejolak harga, kemandekan program, hingga elit politik yang terus bersilang lidah, rakyat digambarkan terkapar, miskin, lapar, dan haus.

Secara simbolik, "tandon kosong" dalam bait ke enam oretan Adi itu mendeskripsikan fisik dari krisis air atau kemiskinan infrastruktur, sekaligus menjadi metafora kekosongan perhatian negara terhadap denyut paling dasar dari kehidupan rakyat.

Bait-bait awal meletup dalam nada politis; elit berseteru, program tak jelas, harga gas melambung. Lalu puisi ini pun coba menukik, menuju lanskap keseharian warga kecil yang harus mencari-cari air dan uang dengan harapan yang nyaris mengering.

Namun, di tengah kehampaan itu, Adi Sejagat menyisakan seberkas cahaya. Kemenangan tim nasional atas China menjadi oase emosional. Sebuah ironi, ketika olahraga menjadi satu-satunya hiburan yang memberi rakyat alasan untuk tersenyum.

Bukan karena sejahtera, tetapi karena mereka masih ingin berharap.

Dengan gaya bahasa yang lugas dan tanpa hiasan berlebih, puisi Adi Sejagat di atas tampaknya hendak merangkum apa yang kerap tidak tersuarakan dalam berita resmi: perasaan rakyat jelata, yang menggumam lirih "Duh, Gusteh", di antara siaran pertandingan dan panci kosong.

Rubrik Sastra dimadura menerima puisi ini bukan semata karena kekuatan bentuknya, tetapi karena keberaniannya menyuarakan kerapuhan sosial, sekaligus menunjukkan bahwa bahkan dalam guncangan, rakyat tetap mencari harapan, meski hanya di gawang lawan.***