Saat dikonfirmasi, Sugeng tegas membantah. Menurutnya, rumor yang beredar hanyalah manipulasi informasi. Ia menegaskan perannya sebatas pelaksana event MCF dan pameran pembangunan.

“Tidak benar kalau saya mengendalikan semua. Setiap festival punya panitia masing-masing. Saya hanya pegang Madura Kultur dan pameran pembangunan,” ujarnya, Jumat (12/9).

Terkait tudingan dana iuran rokok yang masuk ke rekening pribadinya, Sugeng menyebutnya fitnah.

“Justru paguyuban yang menanggung biaya orkes, panggung, sampai tenda. Tidak ada yang saya makan. Kalau disebut 1 miliar, itu bohong,” tegasnya.

Polemik Harga Lapak dan Dukungan Sponsor

Isu jual-beli stand di MCF 2025 menjadi sorotan karena tarif disebut mencapai jutaan rupiah. Sugeng meluruskan bahwa tarif berbeda-beda, mulai Rp350 ribu khusus untuk UMKM.

“Orang hanya lihat nominalnya. Padahal biaya keamanan saja tiap malam Rp2,5 juta. Pengamanan stan, kebersihan, itu besar,” jelasnya.

Menurut Sugeng, biaya yang dipungut bukan untuk keuntungan, melainkan menutup kebutuhan operasional festival. Ia juga menepis anggapan sponsor mengalir dalam jumlah besar.

“Sponsor pun kecil, RSUD hanya Rp500 ribu, SKK Rp2,5 juta, Kangean Energi Rp5 juta,” katanya.

Sugeng menilai publik kerap hanya melihat angka pungutan tanpa mempertimbangkan beban biaya yang harus dikeluarkan panitia.