Ia berharap peningkatan kapasitas tersebut dapat memperkuat peran relawan dalam mengantisipasi kebakaran dan berbagai kejadian darurat berskala kecil di lingkungan desa. 

Kesiapsiagaan yang dibangun secara kolektif dinilai penting untuk mengurangi risiko dan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi keadaan tidak terduga.

Dukungan terhadap penguatan relawan juga datang dari pemerintah kecamatan. 

Camat Sapeken, Hamka, menilai keberadaan Gugus Tanggap Bencana di tingkat desa merupakan langkah strategis dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat, terutama di wilayah dengan tantangan geografis seperti Pagerungan Besar.

Ia mengapresiasi keterlibatan SKK Migas–KEI yang turut mendukung peningkatan kemampuan masyarakat melalui pelatihan tersebut. 

Menurut Hamka, pola kolaborasi semacam ini berpotensi dikembangkan di desa-desa lain di Kecamatan Sapeken.

Hamka bahkan berencana mendorong kegiatan serupa sekaligus mengajak pemerintah desa membentuk kelompok tanggap bencana sesuai kebutuhan dan karakteristik wilayah masing-masing.

"Keberadaan Gugus Tanggap Bencana di tingkat desa ini merupakan terobosan yang sangat bermanfaat. Kami berterima kasih kepada SKK Migas–KEI dan relawan yang telah memberikan perhatian terhadap kebutuhan masyarakat," katanya.

Namun, keberlangsungan gugus tersebut tidak hanya bergantung pada kemampuan sumber daya manusia. Ketersediaan sarana dan prasarana juga menjadi faktor penting agar relawan dapat menjalankan tugas secara optimal.

Karena itu, Hamka berharap pemerintah desa turut memberikan dukungan terhadap operasional gugus, termasuk pemenuhan kebutuhan peralatan penanganan bencana.