Pengalaman tersebut juga memberikan gambaran mengenai tindakan yang perlu dilakukan ketika menghadapi kebakaran maupun situasi darurat lainnya.
"Kami bersyukur bisa belajar langsung tentang pertolongan pertama pada korban dalam kondisi kegawatdaruratan dan pada saat menghadapi kebakaran. Kami juga bisa mengikuti simulasi bersama narasumber dari Damkar," kata Mita.
Ia berharap pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, tempat kerja, maupun masyarakat.
Pelatihan di Pagerungan Besar menunjukkan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam membangun sistem kesiapsiagaan bencana, terutama di wilayah kepulauan yang memiliki tantangan akses dan geografis.
Kolaborasi pemerintah, perusahaan, tenaga kesehatan, dan relawan menjadi salah satu upaya memperkuat kemampuan masyarakat dalam merespons keadaan darurat.
Melalui penguatan kapasitas yang berkelanjutan, Gugus Tanggap Bencana Pagerungan Besar diharapkan tidak hanya menjadi garda awal penanganan insiden, tetapi juga mampu menumbuhkan budaya sadar bencana di tengah masyarakat. ***

