SASTRA, DIMADURA - Bahasa Madura memiliki nuansa sastra tulis dan lisan unik yang dapat dijadikan pakem dalam penulisan artikel, opini, kolom, esai dan terutama karya fiksi seperti cerpen dan puisi. Model sastra tersebut adalah bhângsalan.
Dalam Bahasa Jawa, 'bhângsalan kita kenal dengan 'Wangsalan', toh struktur dan unsur kalimat antara bhângsalan dan wangsalan tidaklah sama.
Letak perbedaan keduanya dapat kita simak dari intisari beberapa contoh keduanya di akhir artikel ini.
Berikut ini penjelasan tentang 'Bhângsalan' serta beberapa contohnya.
A. Pengertian Bhângsalan
Bhângsalan adalah bentuk kata atau gaya ucap sastra bahasa Madura dengan rasa bahasa yang unik. Karena dalam penyusunannya, kita harus menyembunyikan ‘arti kata’ dari ‘maksud’ bhângsalan yang termuat (biasanya) di bagian tengah kalimat.
Cara merangkai kalimat 'Bhângsalan Madhura' adalah dengan cara mencari padanan kata kerja dengan akhiran fonem (bunyi) yang sama antara 'arti kata' dan 'maksud' dari bhângsalan itu sendiri.
Perhatikan contoh berikut:
| Èyatorè pasaèyaghi, nyè-konyè' ghunong, samo-nemmona ka'á¸into.
| “Dipersilahkan! Makanlah dengan lahap, Tuan! Inilah apa adanya yang bisa kami haturkanâ€.
Kata kerja yang berakhiran suku kata dengan bunyi ‘mo’ tersebut disebut panebbhus/maksot (penebus/maksud) dari bhângsalan.
