Puisi "Jaman Topeng" oretan Khalil Tirta ini hendak mengajak kita untuk merenungi kerumitan dan kepalsuan dalam kehidupan modern. Dengan bahasa yang metaforis, penyair menggambarkan pertukaran wajah dan kepala sebagai simbol dari kepalsuan dan kontradiksi yang sering kita hadapi. Dalam puisi ini, kita dibawa pada perjalanan batin yang kompleks melalui imajinasi tentang pertukaran identitas dan konflik dalam kehidupan sosial. Pemilihan kata-kata yang kaya menggambarkan kebingungan dan kebingungan dalam menghadapi realitas yang semakin kompleks.

Puisi Khalil Tirta *)

——————————

JAMAN TOPENG

"

Bagaimana jadinya, jika kepala sapi tertukar dengan kepala orang Lalu kepala yang tertukar itu saling tak merasa Jika wajah yang dipakai sudah bukan miliknya lagi.

"

Bagaimana jadinya, jika wajah silang yang sudah hilang asal-usulnya itu suatu hari berjumpa dan bersapa. Bagaimana jadinya, jika keduanya tiba-tiba saling bergandengan tangan menuju pasar malam, memasuki masjid, merasuki sekolah, nongkrong di istana negara, berceramah di acara maulid nabi, menjadi gambar orang-orangan jalan raya, mengolah kebudayaan, mengadakan seminar, membikin kabar yang setiap saat nampang di koran dan televisi.

Bertambah hari mengapa tubuh kita semakin riuh-amis pasar ikan?

Ya ikan-ikan yang seluruh tubuhnya telah diolesi formalin.

Dari arah yang berkabut siapa sebenarnya yang menggelar kepalsuan membeli hati kita seharga daging kambing hitam di pasar global.

Hah! tiba-tiba kita semakin sukar untuk saling memberi salam Apalagi saling mengenal dan meridhoi setiap pertemuan Tetapi, semua diharap tenang! Jangan berisik! Jangan gegabah! Sebab kita sedang menghadap ke panggung gelap Seperti gelap angan kita yang suka berkelit, berbelit-belit bermain topeng untuk sekadar menipu diri sendiri.