Alifmu yang Satu Tegak dimana-mana

1980

Tiba di Kantor Kecamatan Dungkek

<yoastmark class=

Tiba di kantor Kecamatan Dungkek, kami menjalin silaturrahmi dan bincang panjang lebar tentang maksud kedatangan kami. Setengah jam kita ngobrol.

"Pak Camat tahu nggak, di sini (Dungkek, red.), selain situs-situs bersejarah di area Bukit Kalompek, ada situs tua berupa pagar batu berlubang. Kalau nggak salah itu namanya Ghuwalâ Labâng. Di sisi batu tersebut ada musala tua, ada juga sumber mata airnya, kapan-kapan kita ke sana," ungkap Pak De.

Camat Arif hanya mengangguk dan menyimak. "Nah, sekarang kita mau ini, mau ngantar Dek Tadjul ini, katanya mau lihat Batu Cennèng, dan kalau memungkinkan, kita juga mau ke lokasi yang diduga merupakan Karaton Pangeran Jokotole, itu ada di bawah lokasi Bujuk Keramat," imbuh Pak De.

Kebetulan, waktu itu Camat Arif tengah sibuk mempersiapkan acara. Jadi, singkat cerita, Camat Arif lalu menugaskan sejumlah jajarannya untuk mengantarkan kita ke lokasi Batu Cennèng Bukit Kalompek.

Jalan ke Bukit Kalompek

Perjalanan menuju puncak Bukit Kalompek cukup mengasyikkan. Kita meniti jalan sempit menanjak di antara semak belukar, sambil menikmati luas laut Jawa nan indah di arah selatan dan utara. "Bak permadani biru membentang di kolong langit," lantang Buya Tadjul, seolah terbawa suasana saat Pak De baca puisi Zikir.

Ya, jalan menanjak dan berliku, terik panas matahari, dituntun pegawai Kecamatan Dungkek, kita naik mobil Calya putih, menembus ranting-ranting semak belukar. Di pintu masuk jalan menuju lokasi, kanan-kiri penuh dengan pekuburan Cina berkavling-kavling.

Ornamen puluhan—atau bahkan ratusan—kuburan itu berbentuk bangunan perahu dengan kepala nisan tegak melebar ke samping. Di tengah² badan bentuk perahu yang memanjang ke belakang, sepetak tanah terhampar, isi kerikil dan rerumputan.

Semakin ke puncak, semakin tampak pemandangan laut utara dan selatan Pulau Madura bagian timur.