"Batu Cennèng, batu yang kokoh menonjol ke angkasa, bila dipukul akan berdentang keras membahana seolah hendak membelah angkasa; seolah batu tersebut berongga. Bunyi dentingan itulah yang oleh masyarakat sekitar dijadikan nama Bato Cennèng atau Kennong," imbuhnya. <yoastmark class=

Batu Cennèng atau Bato Kennong ini, sambung Ketua TACB Sumenep itu, dahulu merupakan salah satu sarana sesembahan agama prasejarah atau zaman paleolitikum. "Itu sebagai pengusir makhluk jahat, dengan membunyikannya," tukasnya.

"Okelah, jangan lama-lama, ayo kita ke situs selanjutnya. Dimana lokasi Bujuk Karamat," sela Pak D Zawawi Imron.

Bujuk Karamat

Tidak jauh dari lokasi Batu Cennèng, ternyata sedang ada pembangunan kecil-kecilan, renovasi asta Bujuk Karamat. [caption id="attachment_5747" align="aligncenter" width="300"]Potret Bujuk Karamat di Bukit Kalompek Dungkek (Foto: Mazdon/dimadura.id) Potret Bujuk Karamat di Bukit Kalompek Dungkek (Foto: Mazdon/dimadura.id)[/caption]

"Ini kita bangun atas aspirasi masyarakat. Kita urunan, ada yang nyumbang Rp 20ribu kita terima, ada yang Rp 500ribu juga kita terima. Kita terima semua niat masyarakat untuk akomodasi pembangunan Bujuk Karamat ini," ungkap salah satu pekerja yang mengetuai pekerjaan renovasi Bujuk Karamat.

Ada sekitar tiga pekerja di lokasi. Kami datang, mereka rehat bekerja dan menemani kami. Pak De duduk di bawah congkop asta Bujuk Karamat, sambil menikmati panorama laut dari atas bukit Kalompek, Pak De bersama seorang pemuda dan jajaran punggawa kecamatan menggelar radarus puisi "IBU" karya D. Zawawi Imron. <yoastmark class=

Sementara saya bersama Pak Tadjul coba mereka-reka sebuah kuburan yang berada di bawah congkop asta sebelahnya. Kuburan itu berada di ceruk antara bebatuan besar.

"Ini sampai dihimpit batu besar, hampir sama dengan Sarkopagus. Jadi perkiraan saya waktu itu, tidak jauh dari sini, berarti dulu di sini ada kehidupan, maksud saya perkampungan dengan sejumlah penduduk," terka Tadjul Arifien R.

[gallery ids="5750,5749,5743,5738,5748"]

"Ternyata Sumenep sangat kaya situs sejarah atau cagar budaya, yang perlu perhatian khusus bagi Pemerintah Kabupaten sebagai kekayaan warisan leluhur," kesannya.

Rencana Perjalanan Berikutnya

Faktor usia menjadi kendala untuk melanjutkan perjalanan penelitian kecil-kecilan berikut ke lokasi yang diduga merupakan Karaton Pangeran Jokotole.