Inisiatif untuk mampir bertamu ke Camat Dungkek ini adalah ide Pak De. "Sudahlah jangan tanya kenapa kita mau mampir ke Camat Dungkek, yang penting kita ketemu dulu di kantornya," ujar Pak De, dan kita pun segera berangkat.
Pak De Baca Puisi "Dzikir"
"Puisi saya sudah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, dan di antara puisi yang oleh orang Belanda sulit diterjemahkan adalah puisi saya yang berjudul "Zikir", mereka merasa kesulitan untuk menemukan padanan kata yang pas untuk zikir," ungkap penyair kelahiran Kampung Seddung, Batang-Batang tahun 1941 itu.
Sekadar diketahui, menurut sejarah lisan masyarakat setempat, nama Kampung Seddung, tempat kelahiran H.D. Zawawi Imron, terinspirasi dengan kata 'dungset', yakni tongkat Pangeran Jokotole yang konon katanya ditancapkan ke tanah Kampung Seddung hingga muncar sumber mata air.
Lanjut! Selama perjalanan, di dalam mobil, D Zawawi Imron mendeklamasikan puisi ciptaannya itu sambil menikmati laju Calya M 1443 HK warna putih, dari Pasar Candi ke arah kantor Kecamatan Dungkek.
[caption id="attachment_5742" align="aligncenter" width="300"]
NIKMATI PERJALANAN: Pak D Zawawi Imron sambilalu membacakan puisi Zikir (Foto: Mazdon/dimadura.id)[/caption]
"Zikir"
Alif Alif Alif
Alifmu pedang di tanganku Susuk di dagingku, kompas di hatiku Alifmu tegak jadi cagak, meliut jadi belut
Hilang jadi angan, tinggal bekas menetaskan terang hingga aku berkesiur pada angin kecil takdir-Mu
Hompimpah hidupku, Hompimpah matiku, Hompimpah nasibku, Hompimpah, Hompimpah, Hompimpah!
Kugali hatiku dengan linggis alifmu Hingga lahir mataair, jadi sumur, jadi sungai, Jadi laut, jadi samudra dengan sejuta gelombang Mengerang menyebut alifmu
Alif Alif Alif

