"Di sini, di tanah ini, rencana akan dibangun universitas, Pak De. Mau dihibahkan kata Pak Kades. Dengan latar pemandangan laut, ini yang sedang dimimpikan beliau," ucap salah seorang punggawa Kecamatan Dungkek.
"Ya, ya, ya.. Tapi tinggalkan dulu itu. Sekarang mari kita dahulukan niat ke lokasi yang sedang kita tuju, dimana lokasi situs Batu Cennèng itu," timpal Pak De.
Kami pun terus melaju. Bujuk Kiai Hormat kita lewati, langsung menuju ke lokasi Batu Cennèng dan Bujuk Karamat.
Tiba di Lokasi Letak Batu Cennèng
Sampai di area Batu Cennèng berada, kami masih harus berjalan ke arah barat sekitar 600 meter. Pak De Zawawi Imron, Pak Tadjul Arifien, Pak Saleh dan jajaran perangkat kecamatan pun tiba di depan Batu Cennèng.
Ditabuhlah batu itu oleh salah satu punggawa kecamatan menggunakan batu karang kecil yang ada di sekitar. "Cennèng.. Cennèng.." demikian resonansi bunyi yang ditimbulkan batu tersebut.
"Selain ini, dulu batu Cennèng ada tiga, dua lainnya sudah tidak ada, dipantok oleh warga," terang punggawa itu.
Di situ kami berpose, mengabadikan diri dalam foto bersama Pak De, Pak Tadjul, Pak Saleh, dan jajaran punggawa kecamatan yang ikut.
Di sinilah, dua budayawan senior D Zawawi Imron dan Tadjul Arifien R melacak keberadaan situs sejarah purba yang ada di ujung timur pulau Madura.
Di atas bukit terpangpang sebuah batu andesit menengadah ke langit—di atas bongkahan batu landasannya.
"Sekilas, sebongkah bebatuan yang kita lihat tadi, di Bukit Kalompek itu, memiliki tekstur yang sangat keras, memiliki eksotisme yang berbeda dibanding dengan bebatuan yang lazim pada umumnya," lanjut Buya Tadjul.