"Ella, areya abali pole bhai lah. Abali pole bhai, ator dâgghi' bâktona, yâ. Bannè kèng apa, ayu' molè lu," ungkap Pak De, mengajak pulang.
Ya, kami masih merencanakan perjalanan lebih lanjut pada kesempatan yang lain. Redaksi dimadura.id akan kembali dengan catatan perjalanan selanjutnya ke Ghuwâ Labâng dan Karaton Jokotolè.
Perjalanan mengasyikkan di atas adalah catatan pembuka. Setidaknya, perjalanan ini sedikit menambah wawasan kami tentang kekayaan sejarah yang tersimpan di Bukit Kalompek.
Situs purbakala Kalompek bukan hanya melengkapi cagar budaya di Sumenep, tetapi juga menjadi saksi bisu peradaban masa lalu yang perlu dijaga dan dilestarikan. Bukit Kalompek adalah warisan leluhur.***