Nur menambahkan, bahwa pengiriman JNT bermasalah itu tidak hanya terjadi satu kali. Merasa kapok, maka ketika ada pembelian yang harus dikirim melalui jasa JNT, ia mengaku harus mengubah alamat penerimaan ke sekolah tempat ia mengajar, di SMPIT Al-Hidayah, Pangarangan, Kecamatan Kota, Sumenep.

"Jika terpaksa harus lewat JNT, maka terpaksa juga harus ubah alamat ke area kota, ke pos jaga satpam tempat saya ngajar, dan otomatis tidak bisa COD," akunya.


Maos Jhughân


Keputusan itu ia ambil karena dirinya merasa sangat dirugikan. Sebab, selain harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menjemput barang tersebut, Nur juga mengalami penundaan dalam penjualan kepada pelanggannya.

“Entah karena apa ya? Kalau dibilang karena jauh ke desa, waktu mesan kan saya bayar sesuai ongkir ke tempat. Saya kira, JNT hanya kurang profesional ya,” keluhnya.

Menanggapi keluhan Anni dan Hendra, pihak JNT Express Jawa Timur hanya menghubungi redaksi Madurapers dan meminta takedown berita tentang pelayanan buruk JNT Ekspress yang dimuat sejumlah media.

"Kami memohon dengan hormat agar pemberitaan tersebut dapat di-takedown dari laman website madurapers.com," pintanya melalui pesan WhatsApp, sebagaimana dilansir Madurapers, Rabu (31/7).

JNT Express bagian Public Relation juga menyurati Redaksi Madurapers via email yang mengungkapkan bahwa paket tersebut sudah diterima oleh Miftahol Hendra.

"Kami menghargai atensi dari tim Madura Pers terhadap ketidaknyamanan yang dialami salah satu pelanggan kami," tukasnya.***