Tiap Tahun, Lulusan SMK Sumbang Angka Pengangguran di Sumenep
NEWS SUMENEP, DIMADURA–Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih menjadi salah satu penyumbang angka pengangguran di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.
Kondisi tersebut terjadi karena sebagian lulusan belum sepenuhnya terserap oleh dunia kerja.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Sumenep, tingkat pengangguran terbuka di Kabupaten Sumenep memang tergolong rendah. Namun, lulusan SMK tercatat masih mendominasi kelompok pencari kerja yang belum memperoleh pekerjaan.
Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Sumenep, Handoyo Wijoyo, mengatakan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama, mengingat konsep pendidikan SMK sejatinya dipersiapkan untuk mencetak lulusan yang siap kerja.
“Padahal konsep SMK itu dipersiapkan untuk siap kerja. Ini yang perlu menjadi perhatian bersama,” sampainya, Jumat (22/5/2026).
Menurut Handoyo, persoalan serius itu perlu dikaji lebih mendalam, terutama terkait kesesuaian antara jurusan pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja di Kabupaten Sumenep.
“Kondisi ini perlu dikaji lebih dalam, terutama terkait kesesuaian jurusan pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja di Kabupaten Sumenep,” kata dia.
Handoyo menilai sinkronisasi antara dunia pendidikan dan sektor ketenagakerjaan menjadi langkah penting untuk menekan angka pengangguran lulusan sekolah kejuruan.
“Jangan sampai jurusan yang dibuka tidak sesuai dengan kebutuhan lapangan pekerjaan di daerah,” ucap dia.
Selain itu, menurut Handoyo, koordinasi antara pemerintah daerah dan lembaga pendidikan juga dinilai perlu diperkuat agar lulusan SMK memiliki kompetensi yang benar-benar dibutuhkan oleh dunia usaha maupun industri.
Pihaknya menegaskan, ia hanya bertugas menyajikan data berdasarkan hasil survei dan metodologi statistik nasional.
Sementara langkah kebijakan dan solusi penanganan menjadi tanggung jawab para pemangku kepentingan terkait.
“BPS menghadirkan data, sementara solusi kebijakan perlu dirumuskan bersama oleh stakeholder,” tutur Handoyo.
Lebih lanjut, ia berharap persoalan ketenagakerjaan tidak hanya dilihat dari besaran angka pengangguran semata, tetapi juga kualitas pekerjaan dan tingkat kesejahteraan masyarakat yang telah bekerja.
“Penting dipikirkan juga adalah apakah masyarakat yang bekerja itu sudah memiliki penghasilan yang layak,” pungkasnya.***
Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.
Follow




