Pengakuan dan Harapan dari Para Tokoh

[caption id="attachment_8637" align="aligncenter" width="700"]Dari Kiri: Kadis Mohamad Iksan, Budayawan Tadjul Arifien  R., Empu Ika Arista, Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo, dan Pengrajin Topeng, Sairun (Foro: Mazdon/dimadura) Dari Kiri: Kadis Mohamad Iksan, Budayawan Tadjul Arifien R., Empu Ika Arista, Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo, dan Pengrajin Topeng, Sairun (Foro: Mazdon/dimadura)[/caption]

Sejarawan Tadjul Arifien R., salah satu penerima penghargaan, mengungkapkan rasa syukurnya atas apresiasi yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Sumenep.

Saya sangat berterima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Sumenep, terutama yth Bapak Bupsti DR Ahmad Fausi Wongsoyudo, SH. MH. dan Kadisbudporapar H.,Moh Iksan, SPd., MT. yg telah memberikan anugerah Budayawan kepada saya,

Sebagai penulis 24 buku tentang sejarah dan kebudayaan, ia menegaskan bahwa penghargaan tersebut bukanlah tujuan utama dari usahanya selama ini.

"Tentang nominal uang yang diberikan sebagai pembinaan, bukan menjadi tujuan bagi saya, yang utama adalah pengakuannya. Karena menyandang predikat Budayawan itu berat, minimal harus mampu menguasai budaya lokal, sejarah, sastra lokal dan punya karya tulis ilmiah," tuturnya.

Sampai saat ini, sambung Tadjul, dirinya sudah menulis 24 buku sejarah, budaya dan sastra Madura ber-ISBN. "Karya tulis tersebut ditekuni sejak tahun 1996 atau sudah 28 tahun," bebernya.

Sebelumnya, saya juga menerima penganugeran predikat di Pusat selaku Sejarawan, di Provinsi selaku Sejarawan dan Budayawan, di Kabupaten pada tahun 2017 selaku Budayawan  2017, dan sekarang ini kembali dapat penghargaan.

“Insya Allah ini adalah bonus dari ketulusan karena sejauh ini saya memang suka budaya dan sejarah,” katanya.

“Saya ingat pepatah Madura, kabhâjhenganna nolong abâ'na, bahwa saya tekun meneliti dan menulis budaya maupun sejarah, maka saya yakin, budaya dan sejarah pada waktunya akan menolong saya,” tambahnya menutup keterangan.

Empu Perempuan Sumenep dan Masa Depan Budaya

Empu Ika Arista, seniman perempuan pencipta keris di Desa Aengtontong, Saronggi, turut mengungkapkan rasa bangganya. Sebagai empu perempuan yang eksis menekuni dunia pusaka, ia merasa terhormat atas pengakuan dari pemerintah terhadap hasil karyanya.

"Saya merasa bangga karena sudah ada apresiasi dari pemerintah. Ini menurutnya merupakan oase yang baik bagi para seniman, bahwa pemerintah telah hadir men-support dirinya dan para seniman lain untuk terus berkarya lebih," akunya.