dimadura
Beranda Okara Kolom Panen Raya SKCK dan Surat Sehat, Ladang Basah di Negeri Konoha

Panen Raya SKCK dan Surat Sehat, Ladang Basah di Negeri Konoha

Gambar Ilustrasi Panen Raya SKCK dan Surat Sehat (Doc. Dimadura)

Oleh: Tadjul Arifien R *)


Cropped Cropped Dimadura Logo2 1 150X150 1KOLOM, OKARA – Di Sumenep, musim Panen Raya SKCK dan Surat Sehat sedang berlangsung. Bukan panen padi, garam, atau tembakau, melainkan panen dompet rakyat yang sedang mencari kerja. Khususnya mereka yang hendak ikut seleksi guru P3K paruh waktu.

Bayangkan, untuk mendapatkan SKCK di Kepolisian harus bayar Rp30 ribu. Ditambah lagi Rp40 ribu di Puskesmas untuk secarik surat sehat. Selembar kertas dihargai puluhan ribu, dan itu berlaku bagi ratusan hingga ribuan orang. Hitung sendiri berapa hasil panennya.

Ironinya, dua institusi itu bukan lembaga swasta. Mereka sudah setiap tahun diguyur dana miliaran rupiah dari APBN dan APBD. Anggaran yang notabene berasal dari pajak rakyat. Tapi ketika rakyat datang meminta pelayanan, mereka tetap saja dipungut biaya.


“Untuk apa miliaran rupiah anggaran itu, kalau rakyat masih juga dipaksa bayar untuk selembar surat?”


Beginilah wajah birokrasi kita, yang makin hari makin mirip pasar. Rakyat datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk membeli.

SKCK dan surat sehat jadi komoditas dagangan resmi. Lalu di mana letak fungsi pelayanan publik? Atau memang sejak lama pelayanan itu hanya topeng, sementara isi kepalanya adalah mesin kasir?

Mungkin ada yang berkata: “Ah, cuma Rp70 ribu.” Tetapi coba hitung. Kalau ada seribu pencari kerja, itu sudah Rp70 juta.

Angka di atas tentu jauh lebih besar daripada imajinasi seorang pengangguran di desa yang uang jajannya pas-pasan. Kalau dua ribu orang? Silakan kalikan sendiri. Itulah ladang basah yang selalu berbuah setiap musim penerimaan.

Rakyat kecil yang ingin bekerja untuk negara malah dipaksa beli tiket masuk. Sebuah tiket bernama surat keterangan. Ironinya, tiket itu dijual oleh institusi yang gajinya sudah dibiayai dari pajak rakyat.


“Inilah negeri Konoha, negeri yang pandai membuat aturan, tapi lebih pandai lagi mencari celah untuk menguras kantong rakyatnya sendiri.”


Sampai kapan rakyat Indonesia bisa benar-benar merdeka dari pencekikan semacam ini?

Selama surat keterangan masih diperdagangkan, selama birokrasi masih merasa dirinya pedagang, jangan pernah mimpi merdeka. Yang merdeka hanyalah mereka yang menikmati hasil panen raya ini.

Panen raya SKCK dan Surat Sehat ini, percayalah, tak pernah gagal musim.

***

Img 20250913 Wa0003*) Tadjul Arifien RLSM INSANI Sumenep. Aktif menulis buku sejarah.  Saat ini sedang menggarap buku tentang “Falsafah Madura”.

Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.

Follow
Komentar
Bagikan:

Konten Iklan