dimadura
Beranda Tomang Sumenep Wabup Sumenep Respons Kritik PCNU soal Isu Lingkungan dan Kemiskinan

Wabup Sumenep Respons Kritik PCNU soal Isu Lingkungan dan Kemiskinan

Foto: Wakil Bupati Sumenep, KH Imam Hasyim Konfercab NU Kabupaten Sumenep. (Foto: TVNU Sumenep/Doc. Dimadura).

Cropped Cropped Dimadura Logo2 1 150X150 1NEWS SUMENEP,DIMADURA–Wakil Bupati Sumenep, KH Imam Hasyim, memberikan respons atas kritik yang disampaikan Ketua PCNU Sumenep, KH A Pandji Taufiq, terkait persoalan kemiskinan dan kondisi lingkungan daerah dalam pembukaan Konferensi Cabang Nahdlatul Ulama (Konfercab NU) yang digelar di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Minggu (7/12).

‎Wabup Imam Hasyim menjelaskan bahwa data kemiskinan yang disinggung Kiai Pandji Taufiq masih merujuk pada rilis Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, dimana data tersebut belum mencerminkan capaian terbaru yang akan menjadi tolok ukur kinerja pemerintah daerah.

‎Ia menyebut pembaruan data akan terlihat pada periode 2026 hingga 2028. “Kita lihat nanti,” ucapnya, saat sambutan, di hadapan peserta Konfercab NU Sumenep 2025.

‎Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah tetap bekerja berdasarkan data yang sahih dan terus diperbarui.

‎Lebih jauh, Wabup menekankan bahwa kritik merupakan bagian penting dalam membangun pemerintahan yang lebih baik. Menurutnya, pemerintah daerah sangat terbuka terhadap masukan, selama disampaikan secara konstruktif.

‎“Kami sangat terbuka terhadap kritik. Kami justru membutuhkan kritik-kritik yang konstruktif, bukan kritik yang bersifat destruktif,” tegasnya.

‎Sebelumnya, Ketua PCNU Sumenep periode 2020-2025, KH A Pandji Taufiq, menyampaikan kegelisahan terkait kondisi Sumenep yang menurutnya “tidak sedang baik-baik saja”, terutama dari sisi lingkungan.

‎Ia menyinggung aktivitas pengeboran minyak yang dinilainya belum memberi dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

‎Menurutnya, aktivitas usaha di wilayah pesisir kerap mengabaikan substansi proses analisis dampak lingkungan (Amdal).

‎“Secara administratif mungkin ada Amdalnya, tetapi prosesnya sering kali minim partisipasi masyarakat. Ini menjadi kegelisahan kita bersama,” katanya.

‎Selain isu lingkungan, Kiai Pandji juga menyinggung tingginya angka kemiskinan di Sumenep yang masih menempati peringkat ketiga tertinggi di Jawa Timur.

‎“Sumenep yang sering kita banggakan sebagai kabupaten yang kaya raya, pada kenyataannya masih menyisakan kemiskinan,” tuturnya.***

Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.

Follow
Komentar
Bagikan:

Konten Iklan