Peta Sekda Sumenep Berubah Drastis, Aroma Kepentingan Politik Lokal yang Terhubung ke Pusat Menguat
Perubahan peta persaingan ini berlangsung cepat, rapi, dan nyaris tanpa penjelasan terbuka. Publik berhal bertanya:
Apakah seluruh tahapan benar-benar berjalan apa adanya?
Ataukah ada dinamika lain yang bekerja di luar ruang asesmen, yang tak tercatat dalam berita acara, tapi justru menentukan arah akhir seleksi?
Ada aroma kepentingan politik lokal yang terhubung ke pusat?
Simak editorial berikut lebih lanjut…
EDITORIAL, DIMADURA – Dinamika seleksi terbuka pengisian jabatan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, memasuki babak krusial. Namun, tersingkirnya dua kandidat yang sejak awal disebut-sebut sebagai unggulan justru memunculkan tanda tanya besar di ruang publik.
Tahapan seleksi yang kini telah memasuki fase penentuan itu menyisakan enam kandidat. Dua nama lain dipastikan tersingkir setelah satu di antaranya memilih mengundurkan diri dan satu lainnya dinyatakan tidak lolos pada tahap asesmen kompetensi dan potensi.
Informasi tersebut merujuk pada Pengumuman Panitia Seleksi Pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama Sekretaris Daerah Kabupaten Sumenep Nomor 13/PANSEL-JPT PRATAMA/SMP/II/2026.
Penetapan hasil asesmen dituangkan dalam Berita Acara Rapat Panitia Seleksi Nomor 12/PANSEL-JPT PRATAMA-SMP/III/2026 tertanggal 5 Februari 2026.
Dalam pengumuman itu disebutkan, dari delapan pelamar yang dinyatakan lolos administrasi, hanya tujuh orang mengikuti asesmen karena satu peserta memutuskan mengundurkan diri.
Hasil seleksi tersebut juga mengacu pada surat Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Jawa Timur Nomor 800.1.14.2/78312/U.61/2026 terkait penyampaian hasil penilaian kompetensi dan potensi.
Dari proses asesmen itu, enam kandidat dinyatakan memenuhi syarat untuk melanjutkan ke tahapan berikutnya, sementara satu peserta lainnya tidak memenuhi kriteria.
Enam nama yang melaju ke tahap penulisan makalah dan wawancara adalah:
- Chainur Rasyid – Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian
- Moh. Iksan – Kepala Dinas Pendidikan
- Agus Dwi Saputra – Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa
- Achmad Dzulkarnain – Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik
- Abd. Raman Riadi – Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak
- Ferdiansyah Tetrajaya – Kepala Badan Pendapatan Daerah
Sementara dua kandidat lain, Arif Firmanto (Kepala Bappeda Sumenep) memilih mengundurkan diri, sedangkan Eri Susanto (Kepala Dinas PUPR) dinyatakan tidak lolos pada tahapan asesmen.
Dua Nama Kuat Tersingkir
Informasi yang diterima media ini dari sumber internal menyebutkan, sejak awal proses seleksi, Arif Firmanto dan Eri Susanto kerap disebut sebagai dua calon Sekda terkuat. Keduanya bahkan menjadi perbincangan luas di ruang-ruang informal masyarakat sebagai figur yang paling berpeluang menduduki kursi Sekda.
Menjelang tahapan asesmen, muncul kabar bahwa kedua pejabat tersebut sempat dipanggil dan bertemu dengan seorang figur penting di Kabupaten Sumenep.
laDalam perrtemuan itu, menurut sumber yang sama, dibahas sejumlah pertimbangan strategis, termasuk faktor usia Eri Susanto yang disebut hanya menyisakan sekitar dua tahun masa kerja sebelum memasuki usia pensiun.
Pasca pertemuan tersebut, Arif Firmanto justru memilih mengundurkan diri lebih awal dan tidak mengikuti tahapan asesmen. Sementara Eri Susanto tetap mengikuti asesmen, meski kemudian dinyatakan tidak lolos ke tahapan selanjutnya.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan di tengah publik. Mengingat keduanya selama ini kerap dijajarkan sebagai kandidat paling unggul.
Mengapa justru keduanya tersingkir dalam fase yang berbeda namun berdekatan?
Situasi tersebut memicu spekulasi bahwa proses seleksi Sekda Sumenep tidak semata-mata berlangsung dalam ruang administratif dan teknokratis.
Sejumlah kalangan menilai, ada indikasi tarik-menarik kepentingan politik yang lebih luas, bahkan disebut-sebut memiliki keterkaitan dengan kepentingan politik di tingkat yang lebih tinggi.
Meski belum ada pernyataan resmi yang mengonfirmasi hal tersebut, dinamika yang terjadi dinilai cukup janggal dan patut mendapatkan penjelasan terbuka agar tidak menimbulkan persepsi negatif terhadap proses seleksi jabatan strategis ini.
Tahapan Seleksi Berlanjut
Tahap selanjutnya berupa penulisan makalah dan wawancara dijadwalkan berlangsung pada 6–7 Februari 2026 di Hotel Swiss-Belinn Surabaya.
Panitia menyampaikan bahwa teknis penulisan makalah akan dijelaskan langsung saat kegiatan berlangsung, sementara fasilitas laptop telah disiapkan oleh panitia.
Kepala BKPSDM Kabupaten Sumenep, Benny Irawan, menegaskan bahwa asesmen dalam seleksi Sekda memiliki tingkat kompleksitas tinggi karena jabatan Sekda merupakan posisi strategis tertinggi dalam struktur ASN daerah.
“Asesmennya sangat kompleks, mulai dari computer assisted test hingga diskusi. Karena statusnya Sekda, maka asesmennya juga asesmen kompleks,” kata Benny, Jumat (6/2).
Ia menjelaskan, panitia seleksi terdiri dari lima orang dengan ketua berasal dari BKD Provinsi Jawa Timur, serta anggota dari BKPSDM Provinsi Jawa Timur dan tiga akademisi, masing-masing dari Universitas Airlangga dan Universitas Merdeka Malang.
Menurut Benny, proses seleksi akan menghasilkan tiga nama terbaik yang kemudian diserahkan kepada Bupati Sumenep untuk ditetapkan sebagai Sekda definitif.
“Hasil pansel itu tiga besar, dan selanjutnya menjadi hak bupati untuk menetapkan satu orang dari tiga besar tersebut,” pungkasnya.
***
Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.
Follow





