TARÈKA, DIMADURA - Istilah peribahasa Madura "Adigâng Adigung Adiguna" merupakan lanjutan dari sebuah petuah atau pepatah bijak ala sesepuh di Madura yang berbunyi:

"Rèng Madhurâ ta' kèngeng ghâḍhuwân pangghâliyan adigâng adigung adiguna, sabân manossa coma dhârma".

Artinya, bahwa orang Madura tidak boleh memiliki sifat congkak, sombong atau takabur. Sebab manusia hanyalah darma; makhluk hidup ciptaan Allah yang mengemban tugas atau kewajiban untuk melaksanakan kebajikan.

BACA JUGA: 

Peribahasa Madura tersebut adalah petuah sesepuh di Madura untuk kita yang menyandang status sebagai orang Madura. Maka seyogyanyalah makna petuah ini kita ikat kuat dalam hati; tiap kali hendak berpikir untuk melakukan apapun; kita jaga hingga batin telah benar-benar memeluknya erat.

Namun bagaimana kenyataan itu zaman ini? Sepertinya petuah bijak di atas sudah mulai rapuh, lusuh, gugur berserakan. Seolah dalam diri orang Madura zaman ini, tidak lagi terpancar moral, tabiat, atau karakter yang megindikasikan isi pesan "Adigâng Adigung Adigun", terutama kalangan anak muda.

Orang Madura seharus tetap menjaga amanat penting dalam petuah para sesepuh di Madura. Rupanya budaya-budaya asing telah masuk melumat watak asli orang Madura.

Apa yang dimaksud Peribahasa Adigâng Adigung Adiguna?

Adigâng

Kata Adigâng ini biasanya diucapkan kepada orang yang sombong nan congkak mengandalkan kebesaran dirinya; bisa kecantikan atau ketampanan, kekayaan, kepandaian, kegagahan tubuh, atau pangkat yang melekat pada dirinya.

Dirinya merasa paling kuat, sebagaimana dalam peribahasa Madura: Aora’ kabâ’ atolang bessè; berurat kawat bertulang besi; bahwa tidak ada orang lain selain dirinya.

"Ètatta’ ta’ mèḍḍhi’, ètèngghâr ta’ meḍḍhâs, manabi namong saḍâ’/arè’ èghâbây èn-maènan, èyangghep ghuringnga ghedḍhâng sè èbhâḍhi ghu’-ghângghu’ sabbhân lagghu."