Bait Kesembilan:

" Dhadhana pasera se paggun jekjek / Ta’ agalimbang sanajjan nyaba tarowanna / Dhadhana pasera se paggun atoles: / In lam yakun bika alayya ghadobun / Fala Ubali! Fala Ubali! Fala Ubali!

"

Bait yang menegaskan keteguhan hati yang tidak tergoyahkan meskipun menghadapi ancaman kematian. "Paggun jekjek" berarti tetap tegak, dan "ta’ agalimbang" menunjukkan ketidakgoyahan.

Kalimat dalam bahasa Arab "In lam yakun bika alayya ghadobun / Fala Ubali" yang berarti "Asal engkau tidak berduka atas hamba, Gusti, maka hamba tidak akan peduli atas kesengsaraan apapun," adalah sebuah pernyataan iman yang luar biasa.

Ketulusan hati dalam mengabdi kepada Tuhan, bahwa selama Tuhan tidak marah atau kecewa, segala penderitaan di dunia ini tidak berarti apa-apa. Ini adalah puncak dari spiritualitas dan keikhlasan dalam beriman.

Bait Kesepuluh:

" Dhadhana pasera se paleng aesse rassa emba, rassa ta’ tega dha’ nasib abdina sadaja? / Dhadhana pasera se daddiya tamba / naleka lokana bula sareng dika seksek e dhadha? / dhadhana pasera se lebbi kona rassa kerrongnga katembang dhadha se paleng pornama / nyengkap pettengnga ate / Sareng alam dunnya.

"

Bait terakhir ini adalah sebuah refleksi mendalam tentang kasih yang paling sejati dan universal.

"Dhadhana pasera se paleng aesse rassa emba" menggambarkan dada yang paling penuh dengan rasa kasih, sebuah kasih yang tidak bisa dipisahkan dari nasib semua hamba.

Lukisan tentang kasih yang bersifat inklusif, mencakup semua manusia tanpa kecuali. Tirta mengajukan pertanyaan tentang nasib kita sebagai hamba, menunjukkan bahwa kasih sejati tidak bisa abai terhadap penderitaan orang lain.