Dhadhana pasera se daddiya tamba naleka lokana bula sareng dika seksek e dhadha?

Dhadhana pasera se lebbi kona rassa kerrongnga katembang dhadhaa se paleng pornama nyengkap pettengnga ate sareng alam dunnya.

Gapurana, 04 Juli 2024


Baca Juga:  

Arti puisi "Dhadha Se Eporak" dalam terjemah bebas Bahasa Indonesia.

Dada yang Terbelah

Dada siapa yang lebih menerima Di kala mengemban amanah Tabah atas seluruh duka, luka dan sengsara

Dada siapa yang lebih mulus Yang paling menyimpan cinta Lembut dan besar rasa memaafkannya Kepada orang-orang yang tak becus terhadap dirinya Bahwa walau demikian, dadanya tetap sepi dari ngeluh, dada yang tetap memohon Barangkali masih ada ruang terbuka di kemudian hari

Dada siapa yang tetap kokoh Sekalipun bahata melingkat di depan mata Dari nestapa rasa sakit dianiaya Sebagian bala tetangga Sampai menggoncang gunung Lantaran rasa benci yang tumbuh di dada malaikat Tatkala menyaksikan kekasih yang disakiti Angin, tanah, tetumbuhan, batu dan binatang buas Telah sama menangis semuanya Sama murka, sama bertanya-tanya semuanya

“ Duh Kanjeng nabi! Duh Kanjeng Nabi! Duh Kanjeng Nabi! Dari apa dadamu diciptakan? ”

Duh bagaimana kiranya sesal jadi batu Dilempar ke wajahnya sampai menetes darah itu?

Duh bagaimana kiranya sesal jadi kotoran unta yang dilampiaskan ke wajahnya di kala menyembah pada Gusti Tuhan Semesta?