dimadura
Beranda Congkop Profil BPRS Bhakti Sumekar Berbagi dengan Nasabah Pengunjung Pertama, Dirut Hairil Ungkap Sisi Lain Nishfu Sya’ban

BPRS Bhakti Sumekar Berbagi dengan Nasabah Pengunjung Pertama, Dirut Hairil Ungkap Sisi Lain Nishfu Sya’ban

Dirut BPRS Bhakti Sumekar, H. Hairil Fajar, saat Berbagi dengan Nasabah Pengunjung Pertama (Foto: Doc. Dimadura)

Cropped Cropped Dimadura Logo2 1 150X150 1NEWS PROFIL, DIMADURA – Menjelang 15 hari menuju bulan suci Ramadhan, BPRS Bhakti Sumekar memaknai momentum Nishfu Sya’ban tidak sekadar sebagai peristiwa spiritual, tetapi juga sebagai ruang refleksi sosial dan kesadaran finansial umat.

Refleksi itu diwujudkan melalui aksi berbagi kepada nasabah pengunjung pertama di Kantor BPRS Bhakti Sumekar, Selasa (3/2) pagi.

Kegiatan sederhana tersebut meenurutnya merupakan simbol pengingat bahwa spiritualitas harus berjalan beriringan dengan kepedulian dan tanggung jawab dalam kehidupan ekonomi sehari-hari.

Direktur Utama BPRS Bhakti Sumekar, Hairil Fajar, menyampaikan bahwa Nishfu Sya’ban sering dipahami sebatas malam doa dan pengampunan, padahal esensinya jauh lebih luas. Menurutnya, momentum ini semestinya menjadi waktu evaluasi diri, termasuk dalam cara manusia memperlakukan rezeki.

“Nishfu Sya’ban bukan hanya peristiwa religius, tapi ruang perenungan yang membumi. Di dalamnya ada pesan tentang kejujuran, amanah, dan keberanian mengevaluasi cara hidup, terutama di tengah tantangan ekonomi,” ungkap Hairil.

Ia menilai, banyak persoalan hidup yang berakar dari ketidaksadaran dalam mengelola keuangan. Tak sedikit masyarakat yang secara spiritual tampak religius, namun terjebak utang konsumtif, gaya hidup berlebihan, dan keputusan ekonomi yang diambil tanpa perhitungan matang.

“Masalahnya sering bukan karena pendapatan kecil, tapi karena rendahnya literasi dan kesadaran finansial. Padahal setiap rupiah itu amanah,” jelasnya.

Dalam perspektif Islam, lanjut Hairil, harta bukan semata milik pribadi, melainkan titipan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Di titik inilah, menurutnya, Nishfu Sya’ban menemukan relevansi kuat dengan literasi keuangan umat.

Sebagai pimpinan bank syariah daerah, Hairil menegaskan bahwa literasi keuangan bukan hanya urusan teknis perbankan, melainkan bagian dari kesadaran iman. Mengelola keuangan secara bijak merupakan wujud nyata nilai amanah dan tanggung jawab.

“Kalau kita percaya hidup ini dicatat, maka cara kita berutang, menabung, dan membelanjakan uang juga ikut dicatat. Literasi keuangan itu bukan sekadar pintar hitung, tapi sadar nilai,” terangnya.

Menjelang Ramadhan, Hairil juga menyoroti kecenderungan meningkatnya konsumsi masyarakat. Menurutnya, bulan puasa kerap bergeser menjadi momentum belanja berlebih, padahal esensi puasa adalah pengendalian diri.

“Puasa itu menahan, bukan menambah. Kalau Nishfu Sya’ban dijadikan titik sadar, Ramadhan seharusnya lebih sederhana, bukan justru boros,” katanya.

Terkait aksi berbagi dengan nasabah pengunjung pertama, Hairil menyebut kegiatan tersebut sebagai pesan simbolik bahwa bank syariah tidak hanya hadir sebagai lembaga keuangan, tetapi juga mitra sosial masyarakat.

“Berbagi dengan nasabah pengunjung pertama ini sederhana, tapi kami ingin menyampaikan pesan bahwa keberkahan itu tumbuh dari kepedulian. Bank harus dekat, manusiawi, dan hadir dalam momen-momen reflektif seperti menjelang Ramadhan,” katanya.

Ia menambahkan, spiritualitas tanpa pengendalian diri dalam urusan ekonomi hanya akan melahirkan kelelahan batin. Ibadah berjalan, namun hidup tetap terasa sempit.

Di akhir keterangannya, Hairil Fajar menegaskan bahwa Nishfu Sya’ban seharusnya menjadi titik perubahan sikap hidup, bukan sekadar seremoni tahunan.

“Kalau umat ingin kuat, jangan hanya kuat doa. Harus kuat juga perencanaan hidupnya. Spiritualitas dan kecerdasan finansial itu satu paket,” pungkasnya.

***

Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.

Follow
Komentar
Bagikan:

Konten Iklan