Bupati Sumenep dan Makayasa Sepakat Tekan Pengangguran Lewat Inovasi Industri Kretek Lokal
NEWS SUMENEP, DIMADURA — Upaya menekan angka pengangguran di Kabupaten Sumenep melalui sektor industri menemukan angir segar. Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, bersama Owner rokok lokal Makayasa, H. Supriyadi (H. Adi), sepakat membangun sinergi strategis dalam pengembangan industri kretek lokal yang inovatif dan padat karya.
Sabtu siang (12/7), keduanya kembali bertemu untuk membahas kontribusi sektor industri terhadap peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), sekaligus sebagai langkah serius mengupayakan penanggulangan kemiskinan dan pengangguran di daerah.
Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari diskusi sebelumnya, Sabtu (21/6), yang juga diliput media ini, di mana Makayasa menyampaikan target jangka panjangnya menyerap 2.000 hingga 5.000 tenaga kerja lokal.
“Hari ini saya dengan bosnya Makayasa, H. Supriyadi. Saya sampaikan ke beliau bahwa setiap usaha itu pasti butuh proses, dan proses itu menuntut kesabaran. Tidak ada angka seratus sebelum angka nol,” motivasi Bupati Fauzi.
Di usia Makayasa yang baru menginjak empat tahun, masa ini menurutnya merupakan fase krusial untuk terus berinovasi dan memperkuat struktur produksi.
Pemerintah daerah, kata dia, akan terus memberikan dukungan moril dan kelembagaan untuk mengakselerasi pertumbuhan usaha lokal seperti PT Mahaputera Nusantara, produsen Makayasa.
“Saya doakan dengan kesabarannya, ketelitiannya, dan dengan menjiwai setiap proses yang dijalani, Makayasa bisa diterima luas oleh masyarakat. Harapan saya, perusahaan ini bisa menyerap tenaga kerja yang besar,” ucapnya.
Keberhasilan industri lokal menyerap tenaga kerja, sambung dia, akan berdampak langsung terhadap peningkatan daya beli, penurunan pengangguran, dan pengurangan kemiskinan.
“Semakin banyak yang dipekerjakan, semakin bahagia saya sebagai Bupati. Karena artinya masyarakat saya punya ruang untuk bekerja. Tingkat pengangguran menurun, pendapatan per kapita naik, dan secara langsung akan menurunkan angka kemiskinan,” simpul Achmad Fauzi Wongsojudo.
Dalam kesempatan itu, H. Adi menyampaikan bahwa Makayasa adalah perusahaan yang saat ini masih konsisten memantapkan kualitas produksi kretek lokal berdasarkan hasil riset serius.
“TSG Makayasa kami ciptakan sendiri bersama tim riset dari Jerman. Ini menjadi pembeda utama produk kami dengan rokok kretek pada umumnya,” terang H. Adi.
TSG (Tempat Saring Ganda) merupakan filter rokok inovatif hasil kolaborasi Makayasa dengan peneliti dari Jerman, yang diklaim memberi sensasi rasa berbeda dan lebih bersih.
Selain itu, pihaknya mengaku bahwa saat ini Makayasa tengah melakukan riset lebih lanjut mengenai tiga varian rasa, “ada 3 varian yang tengah kita teliti, privasi,” tukasnya.
Lanjut ia sedikit membocorkan bahwa pihaknya kini sedang memfinalisasi varian apel sebagai bagian dari strategi penetrasi pasar skala nasional di kelas premium.
Sementara ini, ungkapnya lebih lanjut, perusahaan tengah menyelesaikan pembangunan gudang baru dengan target menyerap 500 tenaga kerja lokal pada akhir tahun 2025.
“Ini adalah bagian langkah yang menjadi komitmen kami untuk mendukung visi pemerintah daerah,” katanya.
Sebagai industri lokal yang berkembang pesat, Makayasa telah meraih berbagai penghargaan nasional seperti dari CNN Indonesia, SMSI Award, dan Harian Memorandum.
“Makayasa bukan hanya soal bisnis, tapi tentang komitmen membangun Sumenep. Dengan dukungan penuh Bapak Bupati, kami makin optimistis menjalani langkah ke depan,” pungkasnya.***
Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.
Follow






