Oleh: Tadjul Arifien R. (Sejarawan Madura)


SEJARAH, DIMADURAKalau melihat kuatnya pertahanan di wilayah Prenduan, tidak lepas dari strategi Kiai Djauhari Chotib yang memang mempunyai pemikiran cerdas. Beliau sebagai pengasuh Madrasah Nahdlatul Wa’idlin yang merupakan embrio dari Pondok Pesantren Modern Al Amien, Prenduan.

Bukan hanya berjuang dengan fisik dan strategi, beliau juga rela mengorbankan hartanya untuk membantu bahan makanan bagi pejuang setiap hari melalui dapur umum yang berpusat di rumah Kiai Mukri.

Selanjutnya dikirim ke front pertempuran, baik di Sumenep maupun Pamekasan, dibawa oleh Pak Sakinah dan Pak Suhir. [caption id="attachment_14070" align="aligncenter" width="720"]Potret Gapura Utama Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura, Jawa Timur, yang menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam ternama dan bersejarah. Ponpes ini merupakan kelanjutan dari Madrasah Nahdlatul Wa’idlin yang pernah diasuh oleh Kiai Djauhari Chotib, ulama pejuang kemerdekaan Indonesia dari Prenduan. (Foto: Istimewa/Doc. Dimadura) Potret Gapura Utama Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura, Jawa Timur, yang menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam ternama dan bersejarah. Ponpes ini merupakan kelanjutan dari Madrasah Nahdlatul Wa’idlin yang pernah diasuh oleh Kiai Djauhari Chotib, ulama pejuang kemerdekaan Indonesia dari Prenduan. (Foto: Istimewa/Doc. Dimadura)[/caption]

Upaya lain yang dilakukan Kiai Djauhari Chotib ialah melakukan gerakan batin (Gerbat) untuk membentengi para pejuang dan wilayahnya secara gaib.

Bilamana para pejuang akan berangkat ke medan laga, dikumpulkan dahulu di halaman Mesjid Gemma. Mereka lebih dahulu diberi ijazah (èjaza’, Madura, pen.) sebagai sugesti rasa percaya diri dan menanamkan keberanian serta sikap tak takut mati.

Mereka yang mendapatkan ijazahnya, antara lain: K. Nawawi, Zoerni, Farhan, Sahlan (Haji), Ah. Hamid Imamuddin, Ach. Aliridla, A. Mujtahidin, Ahmad Jufri, Muhayat, Surarti Imam Syafi’ie, Bahri, Sajjad Musleh, K. Fathullah Wardi, dan lain sebagainya.

Tokoh-tokoh seperti Kiai Djauhari Chotib selalu menjadi incaran penjajah Belanda, karena beliau-beliau (Baca: ulama pejuang) sebagai kendala utama atas sifat kerakusan penjajah yang bersikap kejam dan tak manusiawi seperti Belanda dan Jepang.

Otomatis, keberadaan Kiai Djauhari Chotib termasuk target utama untuk diciduk dengan alasan “Memberontak kepada Belanda”.

Ketika Kiai Djauhari Chotib dan beberapa pemuda barisan Sabilillah berkumpul di Madrasah, tiba-tiba Moh. Luthfi bersama temannya masuk dan memberitahu bahwa ada tentara Belanda dengan Cakra menuju rumah Kiai Djauhari Chotib.