Penulis: Ahmad Wasil | Ketua LPPNU Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

 

KOLOM Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini melontarkan pernyataan yang memantik kerutan di dahi: "Banyak petani kita yang kerap melancong ke luar negeri".

Di tengah kepulan asap dapur pedesaan yang kian mingser, klaim ini terasa seperti fiksi ilmiah. Fakta di lapangan justru menyodorkan anomali yang getir. Di pasar-pasar tradisional perkotaan, lonjakan harga kebutuhan pokok meroket ugal-ugalan.

Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) mencatat harga cabai rawit merah melambung hingga Rp53.950 per kilogram, sementara cabai merah keriting bertengger di angka Rp51.800 per kilogram.

Bahkan, komoditas sederhana seperti bawang merah dan bawang putih kini kompak mengepung dompet konsumen di kisaran Rp44.000 hingga Rp45.000 per kilogram.

Anehnya, limpahan rupiah dari mahalnya harga sayur-mayur itu sama sekali tidak menetes ke hulu. Dompet para petani tetap saja kempis, terjepit di antara biaya pupuk yang mencekik dan rantai pasok yang dikuasai tengkulak.

Petani kita belum juga sejahtera, menjadi penonton dari perputaran uang yang menguap di lapak-lapak perantara.

Janji manis pemerintah bahwa program andalan Makan Bergizi Gratis (MBG) akan menjadi dewa penyelamat ekonomi desa nyatanya masih membentur dinding realita.

Narasi indah tentang uang triliunan rupiah yang diklaim bakal berputar di level Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pedesaan terancam sekadar menjadi hisapan jempol.