PAMEKASAN, DIMADURA Pecatur asal Pamekasan, H. Taufikurrahman, berhasil mengharumkan nama daerah setelah meraih gelar juara pada ajang Piala Wali Kota Surabaya Cap Kapal Checkmate FIDE Rated Rapid Championship 2026, Minggu (28/6).

Haji Taufik, sapaan akrabnya, sukses menyabet medali emas sekaligus menempati posisi juara pertama kategori veteran dalam kejuaraan catur cepat bertaraf internasional yang digelar dalam rangka memeriahkan Hari Jadi ke-733 Kota Surabaya.

Turnamen tersebut diikuti sekitar 480 pecatur dari tiga negara, yakni Indonesia, Uzbekistan, dan Australia. Persaingan berlangsung ketat karena diikuti sejumlah pecatur nasional hingga pemain bergelar Master Internasional.

Selain menjadi arena kompetisi, turnamen tersebut juga dimanfaatkan para pecatur untuk mengejar perolehan rating internasional serta menambah pengalaman bertanding melawan pemain dari berbagai level.

Mewakili PERCASI Pamekasan, Taufik tampil konsisten sejak babak awal hingga akhirnya mampu berdiri di podium tertinggi kategori veteran.

Prestasi tersebut semakin istimewa lantaran dirinya berhasil mengalahkan Master Internasional Irwanto Sadikin asal Jakarta. Selain itu, ia juga sukses menahan imbang Master Internasional Ronny Gunawan asal Surabaya.

Hasil tersebut memastikan H. Taufikurrahman keluar sebagai juara pertama kategori veteran. Posisi kedua ditempati Ronny Gunawan, sedangkan posisi ketiga diraih Irwanto Sadikin.

Haji Taufik mengaku bersyukur atas capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan itu merupakan buah dari latihan yang konsisten, ketenangan saat bertanding, serta dukungan dari berbagai pihak.

"Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa meraih juara pertama dan mempersembahkan medali emas untuk Pamekasan. Ini bukan kemenangan pribadi, tetapi kemenangan bagi PERCASI Pamekasan dan masyarakat Pamekasan yang selalu memberikan dukungan," ucapnya, sebagaimana dilansir Klik Madura, Senin (29/6).

Mantan anggota DPRD Pamekasan dan mantan Ketua DPC Partai Gerindra Pamekasan itu mengakui persaingan dalam turnamen berlangsung sangat ketat.

Sebab, peserta yang ambil bagian berasal dari berbagai daerah hingga luar negeri, termasuk para pecatur bergelar Master Internasional.

"Lawan-lawan yang saya hadapi sangat kuat. Saya bersyukur bisa mengalahkan Master Internasional Irwanto Sadikin dan bermain imbang melawan Master Internasional Ronny Gunawan. Hasil ini menjadi motivasi untuk terus berprestasi dan mengharumkan nama daerah," katanya.

Ia berharap prestasi tersebut dapat memotivasi para pecatur muda di Kabupaten Pamekasan agar berani tampil dan bersaing di level nasional maupun internasional.

"Saya berharap semakin banyak atlet catur dari Pamekasan yang tampil di kejuaraan bergengsi. Potensi kita sangat besar, tinggal bagaimana pembinaan dilakukan secara berkelanjutan," pungkas H. Taufikurrahman.

Terpisah, Mantan Ketua Percasi Surabaya, Budi Leksono, sebagaimana dilansir abadinews (27/6), menyampaikan bahwa penyelenggaraan turnamen tersebut memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar mencari juara.

"Event ini bertujuan untuk menstimulasi atlet agar bisa meraih rating internasional. Banyak peserta yang mengikuti turnamen ini mulai dari usia 10 tahun hingga kategori veteran. Bahkan sejumlah master internasional juga turut ambil bagian dalam pertandingan," kata Budi.

Menurut dia, penyelenggaraan tahun ini menjadi tonggak baru karena untuk pertama kalinya kejuaraan digelar menggunakan standar Federasi Catur Dunia (FIDE) dan bersifat terbuka bagi peserta dari berbagai daerah maupun negara.

"Kalau sebelumnya total peserta mencapai sekitar seribu orang, kali ini kejuaraan dikemas secara internasional dengan standar FIDE dan bersifat terbuka (open). Ini menjadi kesempatan bagi atlet Surabaya maupun daerah lain untuk mengukur kemampuan melawan pecatur dari berbagai daerah dan negara," katanya.

Budi juga menegaskan bahwa dinamika organisasi yang terjadi di tubuh Percasi Surabaya tidak boleh menghambat proses pembinaan atlet dan pengembangan olahraga catur di Kota Pahlawan.

"Kita tidak melihat adanya kekosongan kepengurusan sebagai hambatan. Yang terpenting adalah bagaimana catur di Surabaya tetap bergerak dan eksis. Pembinaan harus terus berjalan demi mencari bibit-bibit baru," tegasnya.

Senada dengan itu, mantan Bidang Organisasi Percasi Surabaya, Tri Indrawanto, menilai potensi atlet catur Surabaya sangat besar sehingga keberlangsungan turnamen harus terus dijaga.

"Atlet catur Surabaya memiliki potensi yang sangat tinggi. Apapun kondisinya, mereka harus memiliki wadah untuk menyalurkan dan menguji kemampuan. Setiap event, baik lokal, nasional maupun internasional, menjadi kesempatan yang sangat baik untuk melihat perkembangan para atlet," ungkap Tri.

Menurutnya, keberadaan turnamen seperti Piala Wali Kota Surabaya tidak hanya menjadi ajang kompetisi, melainkan juga sarana bagi atlet untuk meningkatkan pengalaman bertanding dan mempersiapkan diri menuju level yang lebih tinggi.

"Yang paling penting adalah para atlet memiliki kesempatan untuk terus berkembang. Dengan adanya turnamen seperti ini, mereka dapat mengukur kemampuan, meningkatkan jam terbang, dan mempersiapkan diri menghadapi kejuaraan yang lebih tinggi," pungkasnya.***