“Alhamdulillah, kami bersyukur atas prestasi yang diraih Syifa. Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan, bimbingan, kesempatan dan doa sehingga Syifa bisa mengikuti lomba ini sampai meraih juara,” kata Adiyono.

Menurut dia, pengalaman mengikuti lomba tersebut menjadi ruang bagi Syifa untuk mengembangkan minat seni sekaligus belajar berkompetisi.

“Bagi kami, yang paling penting Syifa terus belajar, berani berkarya, mencintai seni dan budaya sendiri, serta tetap rendah hati,” ujarnya.

Adiyono berharap prestasi tersebut menjadi pemacu bagi Syifa untuk terus mengasah kemampuan dan menghasilkan karya-karya baru.

Tiga Karya Pemenang

Tiga karya pemenang memperlihatkan pendekatan visual yang berbeda dalam membaca tema keris dan kehidupan masyarakat Aeng Tong-Tong.

Karya Sumantri Hotsu, Juara I, kuat pada komposisi dan kepadatan narasi. Sejumlah figur dan aktivitas masyarakat disusun dalam satu bidang gambar sehingga membangun cerita visual yang kaya.

Dalam pendekatan seni rupa, karya ini memanfaatkan hierarki visual untuk mengarahkan perhatian penonton. Figur dan objek tertentu menjadi pusat perhatian, kemudian mata bergerak menuju detail di sekitarnya. Arsiran hitam-putih membangun value, volume, serta kedalaman ruang.

Kepadatan objek juga menciptakan ritme. Setiap figur memiliki fungsi dalam membangun suasana kehidupan masyarakat. Keris ditempatkan sebagai bagian dari ruang sosial dan budaya Aeng Tong-Tong.

Karya Haris Dhuro, Juara II, mengambil pendekatan yang lebih observasional dengan fokus pada aktivitas pembuatan keris.