SUMENEP, DIMADURA — Bintang cilik Sumenep, Syifa Millatul Arsa, meraih Juara III Lomba Sketsa Keris Tingkat Umum Se-Madura dalam rangka HUT ke-60 Korem 084/Bhaskara Jaya 2026.
Siswa kelas V ini bersaing dengan peserta dari berbagai latar belakang, termasuk seniman dan guru seni. Syifa mengangkat tema “Keris dalam Kehidupan Masyarakat Desa Wisata Aeng Tong-Tong” melalui karya sketsanya.
Digelar Juli 2026, lomba tersebut ditutup dengan penyerahan hadiah kepada para pemenang pada Senin, 28 September 2026.
Posisi pertama diraih Sumantri Hotsu, seniman senior Sumenep. Juara II diraih Haris Dhuro, guru seni SMPN 1 Bluto. Syifa menempati posisi ketiga.
Panitia lomba, Mpu Ika Arista, mengatakan kegiatan tersebut menggunakan seni visual sebagai cara untuk memperkenalkan keris dan kehidupan masyarakat Desa Aeng Tong-Tong.
“Lomba ini bertujuan agar masyarakat mengenal keris dan Desa Aeng Tong-Tong yang notabene sebagai pembuat keris dengan cara yang berbeda, yaitu lewat lukisan atau sketsa,” kata Mpu Ika, dalam keterangan tertulis kepada media ini, Selasa (29/9).
Menurutnya, karya para peserta diharapkan menjadi media pengenalan keris sekaligus kehidupan masyarakat yang menjaga tradisi pembuatannya.
“Harapannya, hasil karya ini mampu menjembatani pengenalan keris dan kehidupan masyarakat pembuatnya kepada masyarakat secara umum,” ucapnya.
Dukungan Orangtua

Prestasi Syifa mendapat sambutan hangat dari keluarga. Ayahanda Syifa, Adiyono, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung putrinya selama mengikuti lomba.
“Alhamdulillah, kami bersyukur atas prestasi yang diraih Syifa. Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan, bimbingan, kesempatan dan doa sehingga Syifa bisa mengikuti lomba ini sampai meraih juara,” kata Adiyono.
Menurut dia, pengalaman mengikuti lomba tersebut menjadi ruang bagi Syifa untuk mengembangkan minat seni sekaligus belajar berkompetisi.
“Bagi kami, yang paling penting Syifa terus belajar, berani berkarya, mencintai seni dan budaya sendiri, serta tetap rendah hati,” ujarnya.
Adiyono berharap prestasi tersebut menjadi pemacu bagi Syifa untuk terus mengasah kemampuan dan menghasilkan karya-karya baru.
Tiga Karya Pemenang

Tiga karya pemenang memperlihatkan pendekatan visual yang berbeda dalam membaca tema keris dan kehidupan masyarakat Aeng Tong-Tong.
Karya Sumantri Hotsu, Juara I, kuat pada komposisi dan kepadatan narasi. Sejumlah figur dan aktivitas masyarakat disusun dalam satu bidang gambar sehingga membangun cerita visual yang kaya.
Dalam pendekatan seni rupa, karya ini memanfaatkan hierarki visual untuk mengarahkan perhatian penonton. Figur dan objek tertentu menjadi pusat perhatian, kemudian mata bergerak menuju detail di sekitarnya. Arsiran hitam-putih membangun value, volume, serta kedalaman ruang.
Kepadatan objek juga menciptakan ritme. Setiap figur memiliki fungsi dalam membangun suasana kehidupan masyarakat. Keris ditempatkan sebagai bagian dari ruang sosial dan budaya Aeng Tong-Tong.
Karya Haris Dhuro, Juara II, mengambil pendekatan yang lebih observasional dengan fokus pada aktivitas pembuatan keris.
Gestur tubuh para tokoh, posisi tangan, peralatan kerja dan lingkungan sekitar menjadi elemen penting. Susunan figur menghasilkan ritme visual yang membawa mata penonton mengikuti aktivitas para perajin.
Dari sisi narasi, karya ini menekankan hubungan antara manusia, keterampilan dan proses penciptaan keris. Peralatan kerja dan gerak tubuh menjadi bahasa visual yang memperlihatkan pengetahuan tradisional dalam praktik.
Sementara itu, karya Syifa Millatul Arsa, Juara III, tampil dengan pendekatan yang lebih sederhana dan komunikatif. Gerbang Desa Wisata Keris Aeng-Tong-Tong menjadi penanda utama, sementara figur dan aktivitas masyarakat membangun cerita di sekitarnya.
Secara komposisional, gerbang berfungsi sebagai focal point sekaligus framing. Elemen tersebut mengarahkan perhatian penonton pada identitas desa, kemudian membawa pandangan menuju kehidupan masyarakat di dalamnya.
Kekuatan karya Syifa terletak pada kemampuannya menghubungkan objek, ruang dan identitas budaya. Keris hadir dalam konteks sebuah desa yang hidup dengan tradisi pembuatan keris.
Dari sisi teknik, karya Syifa memperlihatkan karakter visual seorang anak yang sedang berkembang. Garis, bentuk dan susunan objek digunakan secara lugas untuk menyampaikan gagasan. Kesederhanaan tersebut membuat pesan karya mudah ditangkap.
Ketiga karya pemenang menawarkan perspektif berbeda terhadap tema yang sama. Sumantri Hotsu mengembangkan narasi kehidupan, Haris Dhuro menekankan proses dan aktivitas perajin, sedangkan Syifa menghadirkan identitas ruang budaya Aeng-Tong-Tong.
Perbedaan pendekatan itu memperkaya cara publik melihat keris, mulai tentang kehidupan masyarakat, keterampilan para perajin, serta ruang budaya yang menjadi tempat tradisi tersebut tumbuh dan diwariskan. ***

