dimadura
Beranda Gardu Raden Trunojoyo Dikubur Dua Kali

Raden Trunojoyo Dikubur Dua Kali

Gambar ilustrasi kolom sejarawan Madura, Tadjul Arifien R, “Raden Trunojoyo Dikubur Dua Kali” (Doc. Dimadura)

Cropped Cropped Dimadura Logo2 1 150X150 1GARDU SEJARAH, DIMADURASejarah kadang lebih kejam daripada pedang. Raden Trunojoyo, pahlawan Madura yang berjuang melawan tirani Amangkurat II dan kolonial Belanda, tidak hanya disiksa hingga wafat. Ia juga dikubur untuk kedua kalinya—bukan jasadnya, melainkan nama baik dan perjuangannya.

Fitnah manipulasi literasi dan versi sejarah yang dipelintir membuat Trunojoyo tampil di buku-buku sekolah bukan sebagai pahlawan, melainkan pemberontak.

Ironisnya, bangsa ini yang merdeka justru ikut mewarisi cara pandang Belanda, seolah lebih percaya pada kebohongan kolonial ketimbang jejak otentik bangsanya sendiri.

Atas kegelisahan di atas, sejarawan Madura, Tadjul Arifien R, melakukan penelusuran dan penelitian yang ia akui sedikit rumit hingga akhirnya menulis catatan ini.

–––————————–

RADEN TRUNOJOYO

— (Tadjul Arifien R – Sejarawan Madura)

Belanda berupaya agar nama Raden Trunojoyo yang artinya ‘pemuda yang jaya’ hilang dari kenang-kenangan masyarakat Indonesia, dengan tujuan agar rasa kebangsaan tidak tumbuh. Tidak segan-segan para sarjana Belanda mendistorsi bahkan memperkosa sejarah Indonesia. Dengan tidak disertai dasar serta argument yang ilmiah berdasar kepada analisa sejarah (historische analise). Fitnahan kepada Raden Trunojoyo antara lain:

  • Ayahanda Raden Trunojoyo yakni Pangeran Mlayakusuma disebut “anak jadah”
  • Raden Trunojoyo sendiri disebut sebagai “anak-selir”
  • Raden Trunojoyo dikatakan sebagai Pemberontak,
  • Makam Sang Pahlawan dari Madura tesebut sangat dirahasiakan,
  • Kata Belanda, Raden Trunojoyo bersekutu dengan mengirimkan surat minta bantuan kepada Belanda untuk melawan Susuhunan Amangkurat II
  • Tempat asal dan kelahiran dan riwayat Sang Pahlawan yang autentik ditutup dengan tirai besi.

Namun anehnya, para sejarawan Belanda tidak mampu menampilkan pembuktian yg ilmiah, hanya berdasarkan asumsi belaka, yg pada ujungnya ber-aroma fitnah
Bahkan pada jaman sebelum kemerdekaan Cak Durasim (Sang Budayawan legendaris) memberanikan diri menampilkan cerita tentang Raden Trunojoyo kepada khalayak ramai, seketika itu beliau ditangkap dan harus berurusan dengan P. I. D. (Politieke Inlichtingen Dienst)

Di era kemerdekaan ini sudah sepantasnya diungkap bilamana makam serta sejarah perjalanan perjuangan Raden Trunojoyo yang membela rakyat dari kesewenangan pemimpin yang diktator serta kekejaman Belanda. Diurai secara transparan dan dilepaskan dari segala tirai-rahasia, lepas dari tekanan pihak Belanda karena sekarang Indonesia sudah merdeka bukan boneka penjajah lagi.

Raden Trunojoyo berhak mendapat penghormatan yang layak sebagai pahlawan nasional. Perjuangannya adalah untuk kemerdekaan rakyat Indonesia, dan bisa dibuktikan dengan sejarah dan salah satu bukti adalah suratnya yang ditujukan kepada Susuhunan Amangkurat II.

Tentang wafatnya Raden Trunojoyo dengan cara yang dialami oleh Sang Pahlawan adalah suatu tragedi yang bertentangan dengan rasa prikemanusiaan dan peradaban. Didalam hal ini Belanda berupaya untuk membersihkan tangannya dari segala noda.

Dr. De Graaf didalam Tijdschrift voor Indische Taal, Land-en Volkenkunde tahun 1952, mengemukakan, bahwa noda ini adalah pekerjaan Susuhunan Amangkurat II semata-mata. (De Susuhunan had an vuile was binnenshuis gewassen en geen Holise dwarsky cera toegelaten)

Sejarawan bangsa Belanda yang paling obyektif yaitu tulisan DR. H. J. de Graaf, Lektor UI di Jakarta yang dijadikan referensi oleh Raden Sunarto Hadiwidjojo, berikut petikannya:

“Keterangan mengenai Raden Trunojoyo sebagian besar hanya terdapat dari sumber-sumber Belanda yang dipotong-potong, disesuaikan dengan kepentingan Belanda sendiri. Buku sejarah yang diajarkan disekolah-sekolah pada waktu zaman yang lampau diputar-balikkan, terutama di lapangan perjuangan kemerdekaan. Mereka yang memperjuangkan cita-cita ini disebut avonturir, penghasut, pemberontak, yang didorong oleh pertimbangan-pertimbangan materiil. (kata mereka/Belanda) Trunojoyo adalah avonturir, pemberontak yang didorong oleh cita-cita kedudukan”.

Kenyataannya tidak demikian. Bahan yang memperlengkapi riwayat R. Trunojoyo dengan cita-cita sebagian besar dikumpulkan oleh Dr. H.J. de Graaf, Lektor pada Universitas Indonesia di Jakarta yang rupanya sangat mendalam usahanya mempelajari riwayat Panembahan Maduratna.

Anehnya para cerdik cendikiawan Nusantara kekinian, para sejarawan serta pemerintah, terlena dan percaya pada pemberitaan para sejarawan Belanda. Tanpa mau menganalisa ke-otentikannya, karena merasa tabu membandingkan dg sejarah lokal (Nusantara), atau dg tulisan sejarawan Inggris, China, Perancis dan lain sebagainya. Ironis memang bila bangsa kita cara pandangnya terlalu sempit.


Sumber:

  • Thomas Stamford Raffles, 2014, History of Java
  • Dr de Graaf, 1952, Tijdschrift door Indische Taal
  • R. Soenarto Hadiwidjaja, 1956, Raden Trunojoyo, Panembahan Maduratno Pahlawan Nasional
  • Hj. Hosnanijatun, 2018, Sejarah Babad Sampang

Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.

Follow
Komentar
Bagikan:

Konten Iklan