REGIONAL, DIMADURA — Ketua Umum DPP PKB Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin menyinggung budaya “cakar-cakaran” dan perebutan uang yang menurutnya mewarnai dinamika Nahdlatul Ulama (NU) dalam lima tahun terakhir. Ia menilai kondisi tersebut telah menggerus marwah organisasi dan perlu segera dibenahi.
“Perih lima tahun terakhir ini. Saya sebagai kader PMII, sebagai kader NU, melihat cakar-cakaran, rebutan uang di publik,” kata Cak Imin, saat bedah buku 'Dari Pergerakan Menuju Kepemimpinan: Jejak Langkah Alumni PMII di Panggung Politik, Akademik, dan Kemasyarakatan' di Salam Hall Denanyar, Jombang, Jumat, 28 Agustus 2026.
Dikatakan Cak Imin, alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) memiliki posisi strategis dalam menentukan arah NU, terutama melalui forum Muktamar.
Karena itu, alumni PMII menurutnya tidak cukup hadir sebagai penonton, tetapi perlu mengambil peran dalam mendorong perbaikan organisasi.
Cak Imin bahkan menyebut penyelamatan NU dari keterpurukan lima tahun terakhir sebagai tema besar yang harus menjadi perhatian bersama.
“Tema terbesar hari ini adalah menyelamatkan NU dari keterpurukan lima tahun terakhir,” ujarnya.
Ia mengatakan keberanian mengakui persoalan merupakan langkah awal untuk memperbaiki organisasi. Menurut Cak Imin, berbagai persoalan internal NU tidak semestinya ditutupi jika ingin mengembalikan marwah organisasi.
“NU harus kita akui, jujur, terburuk. Kejujuran itu sebagai bagian dari konsekuensi untuk kita melakukan apa di dalam menolong keterpurukan itu,” katanya.
Cak Imin meminta alumni PMII yang memiliki posisi dan hak dalam proses Muktamar menggunakan pengaruhnya untuk mendorong perubahan.
Ia menilai keberhasilan alumni tidak semata diukur dari banyaknya kegiatan, tetapi dari kemampuan memberi pengaruh terhadap keputusan strategis NU.

