
Ketua Umum PB IKA PMII periode 2025–2030 Fathan Subchi mengatakan buku yang diluncurkan dalam kegiatan tersebut menghimpun gagasan hampir 100 alumni PMII dari berbagai latar belakang. Sebanyak 44 alumni menuangkan pemikiran mereka dalam buku tersebut.
Menurut Fathan, keberagaman profesi alumni, mulai dari aktivis masyarakat sipil, pendamping petani, pengusaha, akademisi hingga politisi, merupakan kekuatan untuk merumuskan gagasan tentang masa depan NU dan bangsa.
“Dari ideologi, dari ide, dari manifesto, dari gagasan menuju kepemimpinan,” ujar Fathan.
Wakil Sekjen PB IKA PMII M. Sholeh Basyari mengatakan buku tersebut juga menawarkan model kepemimpinan yang lahir dari tradisi pergerakan PMII.
Gagasan itu, kata dia, muncul dari dinamika politik lima tahun terakhir yang diwarnai ketegangan, friksi, dan perbedaan kepentingan.
Sholeh juga menyinggung apa yang disebutnya sebagai “siklus angka sembilan” dalam perjalanan politik alumni PMII dan warga NU.
Ia merujuk pada 1999 saat Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi presiden, 2009 ketika kekuatan politik dari keluarga besar NU mengambil kendali penuh atas PKB, serta 2019 ketika KH Ma’ruf Amin menjadi wakil presiden.
Ia kemudian mempertanyakan apakah pola tersebut kembali muncul pada 2029. Menurut Sholeh, jika siklus itu berulang, tokoh sentralnya adalah Abdul Muhaimin Iskandar.
Sementara itu, Ketua Umum IKA Perempuan PMII Luluk Nur Hamidah menekankan pentingnya melihat NU dari akar kehidupan masyarakat.
Dalam bukunya, Ublek dan Oncor, ia menggambarkan NU bukan semata melalui panggung besar, politik, atau kekuasaan, melainkan dari keluarga, musala, kampung, guru ngaji, kiai, ibu, dan nenek yang merawat tradisi keagamaan.

