Yang absen dari semua ini justru transparansi. Dari APBD memang ada alokasi Rp200 juta untuk MCF, sisanya terbagi untuk lima kegiatan lain.
Tetapi, bagaimana uang rakyat itu dibelanjakan, siapa mendapat bagian, dan seberapa besar manfaatnya kembali ke masyarakat. Semua masih kabur.
MCF pun terjerumus jadi ironi. Namanya festival budaya, tapi yang dipertontonkan justru seni sulap anggaran.
Rakyat tidak lagi menonton tari atau musik, melainkan menebak-nebak ke mana hilangnya dana sponsor, tenda, dan iuran yang katanya ada tapi juga katanya tidak ada.
Jika ini dibiarkan, MCF hanya akan diingat sebagai panggung lain dari sandiwara klasik: ketika uang rakyat lebih lantang bicara daripada budaya yang mestinya dirayakan. ***

