Ia mencontohkan website KIM Batuputih yang pernah mengharumkan nama daerah di tingkat nasional akhirnya berhenti beroperasi karena biaya domain dan hosting tidak lagi mampu ditanggung secara mandiri.

"Website itu akhirnya mati. Tidak ada anggaran untuk memperpanjang domain dan hosting. Padahal pernah dapat penghargaan nasional," ujarnya.

Pada akhirnya, penghargaan yang pernah diterima justru meninggalkan kesan pahit bagi sebagian pegiat informasi desa. Sebab bagi mereka, prestasi tanpa keberlanjutan ibarat piagam yang dipajang di dinding sementara rumah yang menopangnya perlahan roboh.

Mungkin inilah yang layak menjadi bahan evaluasi bersama. Sebab publik bukan hanya ingin mengetahui berapa besar anggaran yang dialokasikan atas nama KIM, melainkan juga sejauh mana manfaatnya benar-benar kembali kepada komunitas informasi di tingkat akar rumput.

Sebab, jika yang tumbuh hanya laporan kegiatan dan dokumentasi seremonial, sementara website-website desa satu per satu padam karena kekurangan biaya operasional, maka pertanyaan Fauzi tampaknya masih akan bergema cukup lama. "Mungkin karena memang sudah takdir," pungkas Akhmad Fauzi pasrah.
---