Selain kemampuan teknis, Fauzi menekankan pentingnya membangun karakter melalui olahraga.
Ia mengingatkan para pemain agar menjaga sportivitas dan tidak terpancing emosi selama pertandingan. Persaingan di lapangan, menurut dia, harus tetap berlangsung dalam semangat persaudaraan.
“Jangan ada gesekan, jangan ada perkelahian. Ini sepak bola,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Sumenep, kata Fauzi, berupaya membangun pola pembinaan sepak bola secara bertahap.
Turnamen U-13 diharapkan menjadi salah satu pintu masuk untuk menjaring pemain potensial sebelum mereka melanjutkan pembinaan ke kelompok usia yang lebih tinggi.
Pemkab juga mulai mengembangkan jenjang kompetisi dari U-13 hingga U-17.
Skema tersebut diharapkan memberikan ruang bagi pemain muda untuk terus berkembang melalui pengalaman bertanding yang berkesinambungan.
“Pemerintah daerah berpikir serius bagaimana generasi muda dari U-13 ini bisa menjadi bibit yang berpotensi menjadi atlet sepak bola dan ke depannya dapat diandalkan,” ujar Fauzi.
Ia menilai pembinaan sejak sekolah dasar menjadi fondasi penting dalam menciptakan pemain yang memiliki keterampilan sekaligus mental bertanding.
Tanpa persiapan sejak dini, pengembangan potensi atlet akan menghadapi tantangan yang lebih besar ketika memasuki kelompok usia berikutnya.

