SUMENEP, DIMADURA — Sosok pemeran Arya Wiraraja dalam prosesi Hari Jadi Kabupaten Sumenep ke-757 yang dijadwalkan berlangsung pada 31 Oktober 2026 menjadi kasak-kusuk di kalangan pejabat, khususnya kepala OPD (ASN) setempat.

Pasalnya, pemeran yang disebut terpilih itu merupakan putra Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disbudporapar) Sumenep, Faruk Hanafi.

Informasi yang dihimpun media ini, sosok berinisial I tersebut beridentitas sebagai penduduk (KTP) Kabupaten Pamekasan.

Dikonfirmasi, salah seorang panitia prosesi Hari Jadi Kabupaten Sumenep ke-757, R.B. Mohammad Ramli, membenarkan bahwa pemeran tokoh utama dalam Prosesi Aryawiraraja tahun ini adalah putra Kepala Disbudporapar Sumenep.

Ramli mengutarakan, dalam prosesi tersebut, dirinya dilibatkan sebagai sutradara naskah dan prosesi kedatangan Arya Wiraraja.

“Saya bertugas menyutradarai proses kedatangan Arya Wiraraja,” kata Ramli saat diwawancarai media ini, Kamis (1/10/2026).

Menurut Ramli, seleksi idealnya dilakukan secara formal. Namun, karena waktu persiapan terbatas, pencarian dilakukan secara manual dengan melibatkan sejumlah sekolah dan perguruan tinggi.

“Sebetulnya memang harusnya ada seleksi, tapi berhubung waktunya mendesak, kami mencari secara manual.”

Sejumlah lembaga yang dilibatkan antara lain SMAN 1, SMPN 2, MAN, SMPN 1, UNIRA, UNIJA, serta Kacong Cebbing dari UNIBA Madura. “Jadi lengkap,” kata Ramli.

Dari proses tersebut, dua kandidat akhirnya dipilih untuk dinilai lebih lanjut.

“Setelah diadakan penilaian dari sosok figur meliputi fisik dan yang memenuhi syarat akhirnya terpilih UNIJA dan satunya lagi dari UNIRA,” tuturnya.

Ramli kemudian menyebut kandidat dari UNIRA yang terpilih merupakan putra Faruk Hanafi.

“Setelah saya konfirmasi, kebetulan yang terpilih itu adalah putranya Bapak Kepala Disbudporapar Sumenep, Faruk Hanafi yang dari UNIRA. Anak ini keturunan Sumenep, tapi berada di Batuampar, Pamekasan,” ungkapnya.

“Itu kita seleksi dua orang, tapi yang terpilih tetap satu orang,” tegasnya.

Ia mengatakan bahwa penilaian juga mempertimbangkan karakter fisik dan gerak tubuh pemeran.

“Ceritanya begini, mekanisme penunjukannya memang ada yang mengajukan contoh dari bangsawan keraton dan Singosari, itu juga terseleksi. Intinya semuanya sudah ada ukurannya masing-masing, penilaiannya subjektif,” jelasnya lebih lanjut.

Ditanyakan, apakah penunjukan pemeran tokoh Aryawiraraja harus merupakan keturunan Pangeran Aryawiraja? Ia menjawab, bahwa sejatinya harus demikian.

“Seharusnya memang kalau bisa ada yang keturunan raja-raja, tapi ketika kami seleksi ya ada tapi nggak masuk,” katanya.

Misalnya, sambung dia, dari postur tubuh tinggi tapi kurang bagus jalannya, "diajari nggak bisa. Contohnya begitu. Jadi saya itu setiap malam itu saya latihan di depan Kantor Disbudporapar Sumenep,” timpalnya.

Faruk: “Langsung ke Bu Dewi”

Dikonfirmasi mengenai informasi tersebut, Faruk Hanafi tidak memberikan penjelasan panjang dan mengarahkan media kepada pejabat yang menangani kegiatan. “Langsung ke Bu Dewi,” kata Faruk, dikonfirmasi lewat saluran WhatsAppnya, Kamis (1/10).

“Saya kalau ngomong takut salah, tidak tahu anunya, nggak ada regulasi kalau masalah itu. Ini Bu Dewi yang menangani, takut ada yang keliru,” imbuhnya.

Dikonfirmasi lebih lanjut, Kabid Pemasaran Pariwisata Disbudporapar Sumenep, Hendarti Anta Dewi, juga belum memberikan keterangan karena sedang menjalankan tugas di Pantai Lombang.

“Saya masih perjalanan ke Pantai Lombang, nanti ke kantor saja. Tapi nanti ya, ini masih tugas,” katanya.

“Nanti ke kantor saja, karena takut ada yang keliru, nanti saya panggil Mas Tofan juga,” tambahnya.

Dewi mengatakan, persoalan tersebut perlu dikonfirmasi kepada bidang yang berkaitan agar informasi yang disampaikan tidak keliru. Ia menyebut Kabid Kebudayaan juga perlu dimintai keterangan terkait proses tersebut.

“Kita juga harus memanggil Kabid Kebudayaan, ya tapi kalau mereka tidak mau, saya saja nanti,” tandasnya.

Bagian dari Tradisi Hari Jadi

Prosesi Arya Wiraraja menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi Sumenep setiap tahun. Pada Hari Jadi ke-756 pada 2025, penobatan Arya Wiraraja dan pagelaran budaya dipusatkan di depan Museum Keraton Sumenep dengan melibatkan seniman lokal.

Peringatan Hari Jadi Sumenep setiap 31 Oktober merujuk pada pengangkatan Arya Wiraraja sebagai Adipati Sumenep pada 31 Oktober 1269. Karena itu, prosesi tersebut menjadi salah satu ruang untuk menghadirkan kembali simbol sejarah Sumenep melalui pertunjukan budaya. ***