Dikonfirmasi mengenai informasi tersebut, Faruk Hanafi tidak memberikan penjelasan panjang dan mengarahkan media kepada pejabat yang menangani kegiatan. “Langsung ke Bu Dewi,” kata Faruk, dikonfirmasi lewat saluran WhatsAppnya, Kamis (1/10).

“Saya kalau ngomong takut salah, tidak tahu anunya, nggak ada regulasi kalau masalah itu. Ini Bu Dewi yang menangani, takut ada yang keliru,” imbuhnya.

Dikonfirmasi lebih lanjut, Kabid Pemasaran Pariwisata Disbudporapar Sumenep, Hendarti Anta Dewi, juga belum memberikan keterangan karena sedang menjalankan tugas di Pantai Lombang.

“Saya masih perjalanan ke Pantai Lombang, nanti ke kantor saja. Tapi nanti ya, ini masih tugas,” katanya.

“Nanti ke kantor saja, karena takut ada yang keliru, nanti saya panggil Mas Tofan juga,” tambahnya.

Dewi mengatakan, persoalan tersebut perlu dikonfirmasi kepada bidang yang berkaitan agar informasi yang disampaikan tidak keliru. Ia menyebut Kabid Kebudayaan juga perlu dimintai keterangan terkait proses tersebut.

“Kita juga harus memanggil Kabid Kebudayaan, ya tapi kalau mereka tidak mau, saya saja nanti,” tandasnya.

Bagian dari Tradisi Hari Jadi

Prosesi Arya Wiraraja menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi Sumenep setiap tahun. Pada Hari Jadi ke-756 pada 2025, penobatan Arya Wiraraja dan pagelaran budaya dipusatkan di depan Museum Keraton Sumenep dengan melibatkan seniman lokal.

Peringatan Hari Jadi Sumenep setiap 31 Oktober merujuk pada pengangkatan Arya Wiraraja sebagai Adipati Sumenep pada 31 Oktober 1269. Karena itu, prosesi tersebut menjadi salah satu ruang untuk menghadirkan kembali simbol sejarah Sumenep melalui pertunjukan budaya. ***