Sore ini aku duduk di Warung Kopi Kutunggu Jandamu milik Pak Kodir dan seperti biasanya gemeletuk bunyi pion terlempar-lempar dari pojok warung. Bang Indra datang lalu memesan secangkir kopi. Ia duduk di depanku sambil melinting tembakau. "Eh, Zam, benar kamu pernah bawa kabur Aisah?" Lha kok Bang Indra tahu? Pikirku. Aih, mungkin ini kelakuannya si mulut corong dan siapa lagi kalau bukan Maryati yang mukanya hitam macam wajan. "Menurut abang sendiri, bagaimana?" "Kalau aku sih tidak percaya. Tapi si mulut corong bilangnya begitu." "Ah, dasar si mulut corong kurang kerjaan." "Semua orang sudah dengar lho, Zam, dan dengan berbagai propaganda si mulut corong mencoba meyakinkan mereka." Ingin aku detik ini menghampiri si mulut corong untuk menggasak mulutnya yang bau macam ban sepeda itu. Tidak hanya aku saja yang menjadi bahan gosip si mulut corong sebab setiap orang yang dibencinya akan disebarluaskan ke khalayak seakan-akan memiliki aib. Padahal dia sendiri memiliki sejarah hidup yang ditulis dengan air comberan di masa mudanya. Si mulut corong tidak pernah punya ijazah SD karena dia men-droup-kan dirinya sendiri ketika kelas 3 SD lalu malang melintang di warung-warung remang untuk menjual diri pada sopir-sopir truk. Tak berbilang berapa lembar dosanya sendiri dan betapa bejatnya dia. Bahkan ketika sudah menikah pun dia masih selingkuh dengan pria lain. Dan sekarang tinggal sisa-sisa kebusukannya yang masih belum terhapuskan. Aku yakin si mulut corong akan menjadi juara dunia kalau ada perlombaan menggunjing orang. Tapi aku kembali berpikir sebelum melakukan tindakan konyol kalau aku melabrak si mulut corong apa bedanya aku sama dia yang kelakuannya macam setan itu, dan kalau aku membalasnya apa bedanya prilaku sama binatang itu? Hal ini tidak lain dan tidak bukan hanyalah perangkap setan.

~

Berita burung soal aku dan Aisah itu makin menjadi-jadi.

"Ketimbang kamu diam saja mending beri pelajaran saja si mulut corong biar tahu rasa," Pak Kodir memberi saran. "Iya. Kalau dibiarkan saja malah kelakuan setannya makin menjadi-jadi," timpal Bang Indra. Aku yang sebelumnya membiarkan kejadian ini lama-lama mulai membenci si mulut corong yang tidak pandai menjaga mulut dowernya itu. Berita apa saja pasti disiarkannya. Entah itu berita mau makan, memasak lauk, membeli cincin, membeli beras, melayat, pekerjaan, bantuan dari pemerintah, sampai soal tetek bengek sekolah anak angkatnya, lengkap dengan nominal habis berapa. Dia sama sekali tak peduli dengan keadaan ekonomi keluarganya yang miskin makan tanah. Dan hal ini tidak terlepas dari sifat sombong ibunya. Pepatah buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya sangat pas buat si mulut corong. *** Berita itu-berita yang menyudutkanku sebagai orang paling sok suci-kian menjadi-jadi macam angin ribut yang mulai membelai-belai bulan Juni. Aku sendiri hidup di sebuah kampung di mana orang-orangnya mengaku sebagai keturunan orang Madura yang menikah dengan orang Osing sehingga menghasilkan suku campuran. Masyarakatnya banyak bekerja sebagai nelayan di pesisir, juga banyak yang bekerja sebagai petani di wilayah selatan. Untuk ukuran wilayah kota kami hanyalah kota kecil yang menjadi langganan peraih Adipura. Motto kebersihan pangkal kesehatan benar-benar dipegang oleh kami. Dulu, kota kami dikenal sebagai penghasil anggur yang sangat lezat tiada duanya. Dua gunung di selatan menjadikan kota kami terasa lebih sejuk sehingga tanahnya menjadi subur. Sayangnya, meski telah bergonta-ganti kepala daerah kota kami tetaplah kota kecil yang disesaki oleh pengangguran. Walaupun calon wakil rakyat berbusa-busa ketika masa kampanye kesejahteraan guru tidak pernah diperhatikan. Jangan harap orang jenius di sini bakal dihargai dan diberi tempat yang layak. Sepandai apa pun kalau tidak punya ijazah sarjana, sudah tentu akan menganggur atau hanya bekerja sebagai buruh pabrik yang banyak diisi oleh para bedebah. Tapi di balik itu semua kota kami tetap mendapatkan penghargaan sebagai kota paling indah sebab di mana-mana hijau bahkan gedung walikotanya juga hijau. Hebat bukan? "Apa perlu aku harus meminta pengakuan dari Aisah agar masalah ini cepat selesai. Tapi kenapa selama ini gadis itu hanya diam saja membiarkan ibunya menuduhku seolah aku melakukan dosa besar?" bisikku dalam hati. "Ataukah ini perangkap akal-akalan ibunya Aisah agar aku bersedia melamar putrinya yang sampai sekarang belum nikah-nikah juga? Berbagai kemungkinan bisa saja terjadi dan ini salah satunya. Sebab dengan begitu putrinya akan mempunyai suami dan merdeka dari gunjingan tetangga."  "Bisa juga ini sudah diskenariokan sedemikian rupa ole ibunya Aisah yang telah berkongsi dengan si mulut corong yang bertujuan untuk meruntuhkan kondeiteku karena selama ini si mulut corong iri sama ibu yang telah berhasil menyekolahkan kami, aku dan abang-abangku sampai ke bangku kuliah sehingga kehidupan ibu berkecukupan sebab sudah pasti orang miskin yang sinis bahwa hudup ini tidak adil akan merasa iri terhadap mereka yang hidupnya tidak susah."  "Tapi kalau aku nekat ngomong langsung sama Aisah, jangan-jangan aku bakal dibilang pedekate dan sejenisnya," gumamku. "Maklumkan aku tidak pernah dekat sama dia." Aku berusaha untuk membuang semua prasangka baik terhadap ibunya Aisah maupun si mulut corong. Sebab seperti pepatah hanya karena setitik nila maka rusaklah susu sebelanga. Hati yang putih bening akan berubah keruh gara-gara setitik noda hitam. Biarlah si mulut corong sendiri yang makin gosong tapi aku tidak. Biarlah ditanggungnya sendiri dosanya. "Hei, Pak Zaman, kenapa melamun sendiri?" Pak Ilham menegur sehingga aku tersadar dari lamunan. "Katanya sampean habis membawa kabur Aisah? Sudah jangan dipikir yang penting sampean tidak pernah melakukannya. Coba sampean lihat kehidupan saya. Sudah berapa kali saya difitnah pernah bermain api sama si Putih, si Manis, si Cantik, si Janda, si Kesepian, tapi saya tidak pernah ambil pusing karena fokus saya hanya satu, hidup sekali, menikah sekali, dan mencintai sekali. Saya bukan tipe lelaki yang suka mengkhianati istri. Dulu saya juga tidak pernah pacaran. Seseorang yang berusaha menjatuhkan kita ke dalam jurang sebenarnya mereka sedang menjatuhkan diri sendiri." Aku terpana mendengar penuturan Pak Ilham. Dia melanjutkan, "Boleh jadi, mereka yang berusaha berbuat buruk terhadap kita karena mereka iri melihat kita. Entah dari sisi mana yang menyebabkan mereka menjadi dengki mungkin salah satunya dari profesi kita."  Pak Ilham tersenyum. Aku termotivasi oleh kata-katanya yang bernas. Aku terinspirasi. Aku dikagetkan oleh kedatangan abang tertua Aisah. Tujuan kedatangannya adalah hanya ingin meminta maaf kepadaku secara wabil khusus juga ibuku atas ketidaknyamanan yang dibuat oleh ibunya. "Saya tidak melihat kamu seperti serigala berbulu domba atau bersikap kura-kura dalam perahu, kamu seperti kapas, bening seperti gelas. Aisah pun mengatakan kalau kamu tidak pernah membawanya kabur. Jangankan berniat untuk menodainya, menyapanya saja kamu tidak berani. Maafkan ibu saya atas kejadian ini," kata lelaki itu dengan tulus. Aku menghela napas panjang. Aku pun jadi sadar untung saja aku tidak melabrak dan menyumpal mulut si mulut corong dengan mercon cabai rawit. Andai saja aku menggulungnya secara tidak berpendidikan apa bedanya orang yang terpelajar dengan orang tak berijazah? "Dan satu hal lagi bahwa selama ini ibu menderita penyakit pikun stadium akhir. Sekali lagi saya minta maaf." Ah, pikiran kacau terkadang bisa membuat seseorang lari ke dalam gelap sehingga timbul rencana-rencana jahat penuh muslihat. Orang itu akan semakin berlari dan berlari sehingga susah untuk kembali. Sejak itu derai-derai fitnah masih terdengar. Siapa lagi kalau bukan si mulut corong pelakunya. Semakin dia gencar meyakinkan orang-orang semakin banyak pula yang mengatakannya sinting. Bahkan suaminya sendiri sudah muak dengan mulut bau bannya sehingga tak jarang dia marah-marah sendiri tak jelas di rumahnya. Aku sendiri setiap kali berpapasan dengan Aisah semakin hari semakin berdebar-debar dan selalu salah tingkah. Banyak orang percaya bahwa tanda-tanda jatuh cinta salah satunya salah tingkah tiap kali bertatap muka. Dan Aisah selalu tersenyum. Tapi aku tidak mau salah menduga karena ketika aku menengok ke belakang ternyata tidak ada siapa-siapa selain aku. Dan sejak itu dia selalu tersenyum.

"

Aih, sangat elok rupanya Manis seperti madu senyumnya Bolehkah abang bertanya Apakah adik sudah ada yang punya

"

Aisah tersenyum simpul. Mukanya bersemu merah. [] Probolinggo, Juni 2023
*) Khairul A. El Maliky, Pengarang dan Makelar Kopi. Sekarang bekerja menulis sambil meracik kopi.
"Cerpen ini ditulis untuk dia yang masih disembunyikan oleh bulan, Aisah."