Lebaran Idulfitri tahun 2024 ini, hampir tidak ada lagi pesta mercon raksasa sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Toh, mungkin masih ada di beberapa daerah, baik di Sumenep, Pamekasan, Sampang dan Bangkalan di wilayah desa pedalaman.

Saat ini anak-anak di Madura lebih suka menyalakan kembang api atau berbagai macam dan model petasan mini yang sudah teruji keamanannya, sehinggapun mudah kita dapati di pinggiran jalan perkotaan maupun di toko-toko pedesaan.

6. Ngocol Dhâmar Korong

Tradisi Ngocol Dhâmar Korong ini boleh dikatakan lebih aman dan bisa dipertahankan daripada harus menjadikan ngocol mercon sebagai tradisi untuk menyemarakkan momen hari raya idulfitri. Untuk di Kabupaten Sumenep sendiri, tradisi ngocol dhâmar korong saat lebaran bisa kita jumpai di sejumlah daerah pada halaman musala atau masjid-masjid pedesaan, seperti di Kecamatan Rubaru, Manding, Dasuk, Gapura, Pragaan, Bluto, dan Saronggi. Sekadar dikethui, dhâmar korong dalam bahasa melayu disebut damar kurung dimana nama tersebut sekaligus menjadi salah-satu nama tarian khas masyarakat Kota Gresik, Jawa Timur.

7. Aola Jhâjhân Tellas

Walaupun saat ini sejumlah toko kue dan makanan telah menyediakan paket kue lebaran, sebagian besar ibu-ibu di Madura masih memegang teguh tradisi aola jhâjhân tellas dhibi' (membuat olahan kue lebaran sendiri di rumah masing-masing). Di antara ibu-ibu lainnya, ada yang membuat olahan kue secara berjamaah alias patungan, ada pula yang lebih senang buat kue lebaran secara mandiri dengan hanya mengandalkan bantuan anak atau anggota keluarga sendiri lainnya.
BACA JUGA: Karutan Sumenep Ungkap Cara Menafkahi Keluarga dari dalam Penjara

8. Kalambhi Anyar

Namanya saja lebaran idulfitri, momen dimana umat Muslim yang melaksanakan puasa sebulan penuh kembali fitrah seumpama bayi yang baru lahir, maka tradisi Akalambhi Anyar, Asongko' Anyar, Calana/Rok Anyar sulit untuk dipungkiri. Bahwa setiap pakaian yang kita kenakan kelak pasti juga di-hisab oleh Allah, maka dalam asumsi sementara umat Muslim, tradisi baju baru, songko' baru, celana atau rok baru, menjadi salah-satu alasan semua itu adalah untuk diri yang fitrah (suci). Lebih dari niat itu, kadangkala Hari Raya Idulfitri kerap dijadikan ajang pamer pakaian baru.

"Kita sudah tua, lho... maka agar tampak cantik atau ganteng, bukankah sah-sah saja kita pilih pakaian yang paling pas, agar kita terlihat menyejukkan bagai bayi, to!!" Celoteh seorang ibu paruh baya, saat disinggung oleh temannya soal mewah dan, betapa mehong-nya harga baju yang ia kenakan.

9. Salèng Amaèn

Salèng amaèn, kata orang Madura, bagi masyarakat Jawa Timur secara umum dikenal dengan istilah halal bihalal atau saling bersilaturrahmi ke rumah para sanak-saudara atau tetangga. Momen ini menjadi ajang istimewa terutama bagi mereka yang punya kerabat jauh. Sebab, jika tidak di momen lebaran, terutama bagi mereka yang urban kerja atau migrasi keluar kota, akan jarang bertemu dengan sanak-famili mereka yang ada di kampung halamannya.

10. THR-an

Jangankan orang dewasa yang telah bekerja di suatu perusahaan atau instansi; jangankan pedagang atau kuli bangunan; bahkan anak kecil pun kini sudah berani ngomong kepada orangtua, paman, atau bibi mereka, "THR-annya mana, Pa.. Om.. Te..!" Contoh lain di Kabupaten Sumenep: karena Ketua Banggar DPR RI, MH Said Abddullah, bagi-bagi amplop setiap tahun untuk jemaah salat tarawih di musala dan masjid secara umum, anak-anak remaja pun kerapkali berburu amplop "THR-an Pak Said" dari musala satu ke musala lainnya. Lumayan, amplop tersebut berisikan uang mulai yang terkecil Rp 100ribu plus sembako, Rp 200ribu, Rp 300ribu hingga paling besar Rp 400ribu per kepala. Sebagian anak-anak remaja dan masyarakat Sumenep tetap menyebutnya dengan istilah "THR-an dari Pak Said", walaupun jelas di amplop itu bertuliskan keterangan, Zakat Mall MH Said Abdullah dengan logo PDI Perjuangan.

11. Ater-ater

Bukan hanya pada hari penting dan bulan bersejarah dalam Islam, tradisi ater-ater atau saling berkirim kue/masakan di kalangan masyarakat Muslim Madura juga lumrah dilakukan pada malam ke-27 bulan Ramadhan serta saat hari lebaran. Saat halal bihalal, antar keluarga atau sanak famili di 4 Kabupaten di Madura biasanya akan saling bertamu dari rumah tetangga satu ke rumah sanak saudara lainnya sambil membawa oleh-oleh. Oleh-oleh di hari lebaran ini tidak terikat pada satu nama jenis barang pemberian. Jika pada bulan Safar, orang Madura saling berkirim tajin Safar, maka pada momen lebaran bebas kita hendak memberikan apa kepada orang yang kita kunjungi. Ada yang bawa baju lebaran, sarung baru, tas, kue, makanan seperti palotan srikoyo, tape ketan, gula pasir, beras, ataulah macam ragam minuman yang ada.

11. Ngangghi' Orongnga Topa'

Doeloe, ... selagi aku masih seusia anak SD (antara tahun 1994-1998), pada malam H-3 menjelang lebaran ketupat, kakek, nenek atau emma' seringkali memanggilku untuk berkumpul di serambi rumah. Untuk apa? Tidak lain mereka biasanya mengajak serta mengajari kami sesaudara untuk merajut wadah ketupat, ngangghi' orangngga topa' kata orang Madura. Ada banyak jenis wujud ketupat yang mereka ajarkan, diantara yang masih kuingat antara lain; topa' masèghit, topa' menara, topa' toju', topa' masaghi empa', masaghi tello', dan lain sebagainya. Topa' masèghit artinya bangun ketupat tersebut menyerupai bagunan masjid, fungsinya hanya sebagai wahana pembelajaran kreatif yang membutuhkan ketelatenan dan naluri seni yang agak tinggi. Sama dengan topa' menara, hanya beda panjang bangun. Dari sisi tingkat kesulitan, masing-masing punya kerumitannya sendiri. Ukuran topa' toju' ini bisa dibilang hanya seukuran perut ikan kembung, biasa dimanfaatkan saat kita berhasil menangkap jangkrik di sawah. Cara membuatnya pun cukup mudah dan tidak butuh waktu lama. Topa' masaghi empa' adalah jenis ketupat yang lumrah dibuat dalam jumlah yang banyak. Sebab, selain cara membuatnya cukup mudah, praktis, ukuran ketupat jenis ini dinilai pas untuk kepentingan masakan berbahan pokok ketupat.

12. Atellasan Topa'

Memasak makanan dengan bahan utama ketupat atau lontong merupakan tradisi orang Madura saat menyambut Hari Raya Ketupat, yakni 7 hari setelah lebaran Idulfitri. Makanan tersebut antara lain seperti kaldu, soto, campor, gado-gado, topa' orap dan lain sebagainya. Di sinilah momen dimana antar tetangga dan sanak-saudara saling unjuk kreasi hasil masakan masing-masing lalu saling berkirim antara tetangga yang satu dengan lainnya, antara kerabat dekat dengan kerabat jauh lainnya.

13. Apalessèr

Masih ada sisa makanan tellasan topa', mereka yang punya waktu luas biasanya akan menyempatkan diri untuk pergi berpiknik atau rekreasi ke pantai; Apalessèr kata orang Madura. Di sanalah mereka menghabiskan waktu libur lebaran bersama sanak saudara, famili ataulah teman sebelum keesokan harinya sudah harus mulai masuk kerja lagi.***