Salah satu ungkapan yang paling saya ingat dari penuturan tokoh panutanku, Syekh Ali Jaber Allahummaghfir lahu, yaitu, jika kita ingin memperbaiki hidup maka perbaikilah salat kita.
Ilmu tentang salat ini mungkin sudah didapatkan sejak usia PAUD. Anak-anak sudah hafal bacaannya dan terbiasa mempraktikkan dari kecil.
Namun seiring bertambahnya usia, mereka mulai salat jarang-jarang. Salat saat sempat. Salat saat hari raya. Problematika ini muncul karena yang mereka pahami salat itu wajib. Mereka belum sampai pada tingkatan butuh.
Seandainya mereka sadar bahwa saat salat itu mereka yang butuh kepada Allah, bukan sebaliknya, maka mereka akan berbondong-bondong salat tepat waktu dan sebaik mungkin.
Solusi Jangka Panjang
Salah satu solusi agar anak-anak kita, generasi muda yang hidup di era milenial ini, dapat terhindar dari perbuatan-perbuatan tak terpuji seperti bunuh diri dan hal buruk lainnya adalah dengan kesadaran akan pentingnya pendidikan. Bahwa pendidikan adalah proses dan perjalanan yang tak pernah berakhir.
Bukan karena peserta didik berusia sekian lantas menganggap mereka sudah bisa kita lepas tanpa bimbingan. Mereka bisa jadi sudah hafal ilmunya, namun butuh pendampingan dalam praktiknya.
Hari ini mereka ingat, lusa bisa jadi lupa, karena sebagaimana yang disampaikan oleh M. Yusuf al-Qardhawi:
Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan manusia seutuhnya; akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan keterampilannya.
Model dan Peran Pendidikan Islam
Pendidikan Agama Islam menyiapkan manusia untuk hidup baik dalam damai maupun perang dan menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan kejahatannya, manis dan pahitnya.
Teruntuk para guru, misalnya, mengingat urgennya pembiasaan dan kesadaran, maka kita dapat menggunakan pola atau model pembelajaran everyone is teacher.