“Waktu itu bahkan Pak Rektor jalan dan tanya satu-satu siapa yang menerima atau yang meminta. Semua mahasiswa dihadirkan, ditanya, dan hasilnya semua bungkam. Nggak ada,” tegasnya.

Ia juga mempertanyakan logika dugaan pemotongan dana tersebut. "Piye to temen-temen mintaknya, bisakah pihak kampus minta, saya misalkan Warek 1 minta, aku juga bingung caranya gimana? Proses permintaan itu gimana? Saya malah juga kepengen tahu kalau itu memang ada pemotongan," tukasnya.

Budi menjelaskan, jika ada bukti konkret, pihak kampus siap menyerahkan kasus ini ke aparat penegak hukum. “Kalau memang ada dan terbukti, kami sendiri yang akan menyerahkan ke pihak berwajib,” katanya.

Di tempat yang sama, Rektor UNIBA Madura, Rahmad Hidayat, juga memberikan klarifikasi serupa. Ia memastikan bahwa semua dana KIP langsung dicairkan pemerintah ke rekening mahasiswa.

"Semua pencairan dari pemerintah langsung ke rekening mahasiswa, tidak ada yang nyangkut di kami," jelasnya.

Rahmad kemudian menjelaskan bahwa mahasiswa penerima KIP Skema 1 menggunakan rekening BRILink yang disediakan langsung oleh Dikti. "Sementara untuk Skema 2, hanya UKT saja, itu langsung masuk ke rekening UNIBA," tambahnya.

Seleksi dan Isu Administrasi

Budi menambahkan, beberapa mahasiswa tidak lolos seleksi KIP karena kendala administrasi dan kategori lulusan sekolah swasta. "Kalau mereka yang lulusan SMA Negeri, kecenderungan tidak ada kendala di level administrasi sehingga lancar," katanya.

Namun, Budi mencurigai bahwa isu negatif ini muncul dari mahasiswa pengganti penerima KIP yang tidak lolos pada tahap sebelumnya. "Saya khawatir, yang pengganti ini yang bikin cerita," ujarnya.

Sekadar diketahui, jumlah mahasiswa penerima KIP di UNIBA Madura mengalami kemerosotan cukup tajam.

Rektor Rahmad menyebutkan, jumlah penerima KIP Skema 1 dan 2 pada tahun 2023 mencapai 399 mahasiswa, sedangkan tahun 2024 tercatat ada 181 mahasiswa. "Nggak ada yang skema 2, itu semuanya Skema 1," tutup Rektor UNIBA Madura.***