Topa’ Atè Tellasan, Tarètan Atè Pangabhâktèyan
Oleh: Muhammad Hasbullah *)
KOLOM OKARA — Di Madura, ketupat bukan cuma makanan. Ia adalah isyarat, simpul, dan doa. Di tangan masyarakat Madura, topa’—sebutan lokal untuk ketupat—menjadi penanda: bahwa Ramadan telah pergi, tapi semangat kebersamaan mesti tetap tinggal.
Perayaan Tellasan Topa’ memang sederhana: makan bersama, silaturahmi, dan berbagi makanan. Tapi di balik aroma santan dan janur yang merekah, tersimpan filsafat yang tak bisa direbus seenaknya.
Ada satu ritual yang tak boleh absen: ter-ater. Aktivitas berbagi makanan ke tetangga dan sesepuh kampung ini bukan ajang pamer kuliner, melainkan bentuk konkret pengabdian. Dalam bahasa Madura: pangabhâktèyan. Sebuah pengingat bahwa rezeki tak hanya untuk dikunyah sendiri, tapi juga dibagikan dalam bentuk kasih sayang sosial.
Janur yang dianyam menjadi ketupat memang kerajinan tangan, tapi lebih dari itu, ia simbol keterikatan. Bulir-bulir beras di dalamnya melambangkan cita-cita, harapan, dan kebajikan yang dipadatkan oleh niat baik. Ketika direbus, ia matang bersama. Seperti masyarakat, tumbuh dalam keterikatan, bukan ego sektoral.
Orang Madura punya petuah: Mon topa’ ètabhuk, mon atè èkabhuk — jika ketupat dibungkus, hati pun mesti dibersihkan. Maknanya jernih: ritual lahiriah mesti paralel dengan niat batin. Tak cukup tampil rapi, hati pun harus lapang.
Tellasan Topa’ menjadi ajang untuk menegaskan: kemenangan usai Ramadan bukan hanya soal puasa selesai, tapi tentang kemampuan membagi cinta, tawa, dan nasi hangat dengan taretan—saudara, tetangga, sesama.
Sebagaimana kata almarhum KH. Ach. Fattah: “Adat istiadat adalah benteng akhlak orang Madura.” Maka mempertahankan tradisi bukan nostalgia, tapi upaya mempertahankan akal sehat sosial dari gerusan zaman.
Tellasan Topa’ bukan museum budaya. Ia hidup, bernapas, dan kadang menyanyi pelan di tengah hiruk pikuk globalisasi. Ia ibarat jangkar kapal: tak terlihat mencolok, tapi tanpanya, arah bisa terombang-ambing.
Maka, ketika generasi baru bangga menganyam janur, bukan sekadar membuat ketupat, itu tanda bahwa budaya belum bubar. Bahwa masih ada yang percaya: kebersamaan adalah benih perubahan, dan pengabdian adalah warisan paling mahal.
Mari rayakan Tellasan Topa’ jangan dengan perut kenyang, tapi hati yang lapang. Sebab topa’ boleh habis dimakan, tapi nilai-nilainya mesti terus dihidangkan. Tahun ke tahun. Generasi ke generasi.***
*) Muhammad Hasbullah, Pemuda asli Bakeong, Guluk-Guluk, Sumenep. Aktivis HMI Pamekasan.
Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.
Follow






