Serial Pejuang Kemerdekaan RI ke-8: KH Ahmad Basyir Abdullah Sajjad
CONGKOP, OBITUARI – Putra Kiai Abdullah Sajjad sendiri yakni Moh. Basyir yang masih remaja ikut bergabung menjadi anggota Barisan Sabilillah. Rupanya sang kiai muda yang lahir tahun 1925 ini merasa ikut bertanggung-jawab atas nasib bangsanya, sehingga tidak takut berperang sekalipun nyawa sebagai taruhannya.
Pada tanggal 8 Oktober 1947, tentara Belanda yang ada di Cen-lecen mengadakan serangan ke pertahanan para pejuang di Guluk-guluk tepatnya di Bakeong.
Dalam pertempuran untuk menghadang masuknya tentara Belanda ke Sumenep, pasukan MB dan Barisan Sabilillah berjuang mati-matian melawan tentara Belanda.
Di sana, pasukan Belanda diterima dengan hangat oleh para pejuang dari dua jurusan; dari sebelah utara jalan diserang oleh Barisan Sabil, sedangkan dari selatan oleh pasukan MB.
Kala bertempur KH Ahmad Basyir memegang senjata api jenis mouser buatan Jepang. Bentuknya seperti senapan angin. Kalau ditembakkan, hanya satu kali, lalu harus diisi lagi sambil dikokang.
Tidak seperti senjata api jaman sekarang, tentunya senjata api seperti itu akan memakan tenaga serta waktu bila digunakannya.

Dalam pengrusakan jembatan di Sungai Dungdang untuk menghambat perjalanan konvoi tentara Belanda, beliau punya andil.
Perjuangan mereka harus ditebus dengan harga yang sangat mahal sekali, yakni dengan gugurnya Kiai Abdullah Sajjad, selaku komandan Barisan Sabilillah serta ayahanda tercinta dari K. Ach. Basyir.
Beliau ditembak oleh tentara Belanda dengan cara yang sangat licik, disiasati serta ditipu dan kemudian dijebak dalam perangkapnya.
Gugurnya putra terbaik bangsa dan selaku pemimpin perjuangan tersebut, tidak mematahkan semangat juang dari Barisan Sabil yang masih tersisa, mereka tetap melanjutkannya.
Juga KH Ahmad Basyir, tidak patah semangat, sekalipun ayahanda tercinta sudah meninggalkannya, dan beliau bergabung dengan Barisan Sabil yang ada di Prenduan.
Dalam bulan Januari 1948, Recumba Belanda membentuk Negara Madura (negara boneka) yang bertujuan memecah belah NKRI. Tapi rakyat Madura maupun para Pejuang Sumenep sangat tidak berkenan, dan mereka melakukan “Gerakan Bawah Tanah”.

Pada tanggal 26 Juli 1948, Gerakan Illegal PK 17 bergabung dalam Kubu Sumenep untuk Prenduan dengan memakai kode “Kusec II”, dipimpin oleh Kiai Djauhari Chotib.
Sementara KH Ahmad Basyir selaku Ex Cdt Kompi Sabilillah di Guluk-guluk, ditugaskan sebagai pimpinan pasukan penyebar, beranggotakan sembilan orang (IVG).
Mereka mengadakan gerakan bawah tanah secara illegal (sembunyi-sembunyi), dan banyak sekali hasil yang telah dilakukan.
Di kala Belanda menempatkan IVG (Inlichtingen Velligheids Groep)-nya di Prenduan, sebagian dari pemuda Prenduan ada yang bergabung menjadi anggotanya.
Dalam kesempatan itu, KH Ahmad Basyir menempatkan tiga orang personilnya untuk (menyusupkan) menjadi IVG dengan tujuan untuk melindungi para pemimpin pejuang yang masih dicurigai, serta untuk melunakkan hati para kaki-tangan IVG.
Itu dilakukan setelah penyerahan Negara Republik dari pemerintah Belanda kepada bangsa Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949 melalui perundingan Meja Bundar.
Sejak 1953 hingga wafat (15 Juli 2017, beliau memimpin/mengasuh Pondok Pesantren Annuqayyah Guluk-guluk, juga aktif di berbagai Organisasi Dakwah keagamaan Nahdlatul Ulama Sumenep dan lain-lain.
Perlu diketahui, bahwa pada awalnya, “Annuqayah” merupakan nama madrasah yang diberikan oleh KH. Moh. Ilyas, kira-kira pada tahun 1935 setelah KH. Khozin Ilyas merintis sistem pesantren.
Sumber Referensi:
- H Mustaji, BA. & Didik Hadijah HS, 1988, PPerjuangan Rakyat Madura, Agung Karya Perkasa
- Annuqayah Latèè, 2003, Jejak Masyaikh Annuqayah Kado Reuni Alumni PP An Nuqayah Latèè, Sumenep
- Sulaiman, 1993, Masalah Pokok Sarasehan, Dewan Harian Cabang Angkatan 1945,
- Tadjul Arifien R., 2022, Perjuangan Rakyat Sumenep, Pustaka INDIS
Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.
Follow





