Jejak Doa dan Rasa, 3 Lukisan Syifa Siap Ramaikan Pameran Lukis 2026
NEWS, DIMADURA – Tiga lukisan karya pelukis cilik asal Sumenep, Ana Syifaul Millah Arsa atau Syifa, akan tampil dalam ajang Muda Mudi Art Exhibition (MMAE) 2026. Pameran lukis ini dijadwalkan hadir tanggal 8 hingga 10 Mei mendatang.
Karya yang dibawa menyimpan jejak rasa. Ada cara pandang seorang anak terhadap dunia batin. Warna dan bentuk menjadi media ungkap.
Pada lukisannya yang ia beri judul “Pengakuan Hati“, Syifa menghadirkan semesta yang sunyi. Latar gelap dipenuhi percikan cahaya. Suasana terasa hening.

Di tengah bidang, lingkaran terang memeluk kaligrafi. Ia menjadi pusat perhatian. Planet-planet kecil mengelilingi bidang itu. Kehadirannya seperti penanda perjalanan batin. Lukisan ini mengarah pada tempat pulang bagi rasa.
“Maha Penyayang” menghadirkan suasana yang lebih tenang. Warna biru terasa lembut. Kesan hening muncul kuat. Sebuah pohon berdiri di sisi bidang. Ia tampak diam. Ia seperti saksi.

Di tengah, lingkaran putih memuat kaligrafi. Sederhana. Namun kuat. Lukisan ini terasa seperti jeda. Seorang anak berhenti. Ia lalu percaya. Ada kasih yang tetap hadir dalam diam.
Di lukisannya yang diberi judul “Dua Bunga“, Syifa memilih objek yang dekat dengan keseharian. Dua bunga berdiri berdampingan. Merah dan kuning. Keduanya berbeda. Keduanya tetap bersama. Merah tampak padat. Kuning terlihat terbuka.

Komposisi ini sederhana. Makna relasi terasa kuat. Perbedaan tidak menghalangi pertumbuhan. Latar dibuat kabur. Fokus jatuh pada dua bunga.
Ketiga karya ini menunjukkan arah yang sama. Syifa melukis apa yang ia yakini. Ia menempatkan satu pusat dalam setiap karya. Elemen lain mengelilinginya.
Seorang anak menangkap hal-hal yang sering terlewat. Keyakinan hadir dalam warna. Ketenangan hadir dalam bidang. Kebersamaan hadir dalam bentuk sederhana.
Lukisan Syifa tidak rumit. Makna tumbuh dari kesederhanaan. Cara ini menunjukkan pola pikir yang mulai terbentuk. Kejujuran anak tetap terasa kuat.
Tema yang diangkat terasa dalam. Ia menyentuh wilayah spiritual. Ia masuk ke ketenangan. Ia berbicara tentang makna. Proses belajar memberi ruang bagi eksplorasi rasa.
Dukungan Orang Tua dan Proses Belajar
Perjalanan Syifa dimulai sejak dini. Ayahnya, Adi Yono, mendorong minat melukis sejak Syifa masih duduk di Taman Kanak-kanak.
“Sejak TK B, saya lihat bakatnya muncul di situ, suka mewarnai, maka saya belikan dia fasilitas, buku ganbar, krayon yang agak mahal, dan lain sebagainya,” ungkapnya kepada dimadura.id, ujarnya saat ditemui di Warung Sun Institute, Jumat 10 April 2026.
Ia mengatakan agak lama merasa buntu saat mencarikan guru yang bisa mengembangkan bakat lukisnya. Baru sejak kelas 3 SD, dirinya bertemu dengan sosok seniman bersahaja yang mau mengajari Syifa.
“Ketemulah dengan seniman bernama Sumantri Hotsu. Saya minta padanya agar anak diajari melukis, sekitar dua atau tiga tahun lalu. Beliau adalah sosok sederhana yang sangat terbuka dan bersahaja. Bahkan mau berteman dengan saya,” katanya.
Minat dan bakat itu pun menurutnya kian tumbuh secara alami.
“Alhamdulillah, anaknya senang. Ia bilang suka cara gurunya, Pak Sumantri Hotsu, mengajarinya melukis. Melukis apa saja,” kesannya.
Ruang Ekspresi di Pameran MMAE 2026

Keikutsertaan Syifa menjadi langkah awal menuju ruang publik. Karyanya akan dipertemukan dengan penikmat seni.
Panitia pameran, Thofa, menyebut ajang ini terbuka bagi kalangan umum dengan batas usia maksimal 35 tahun.
“Kami membuka kesempatan open submission karya bagi teman-teman yang ingin berpartisipasi untuk ikut berpameran,” kata dia, dalam keterangan yang diterima dimadura, Minggu 12 April 2026.
Ia menyampaikan, pameran ini hendak memberi ruang bagi seniman muda untuk berkembang.
“Setiap karya yang didaftarkan akan melalui tahap seleksi terlebih dahulu. Beberapa nama yang masuk di antaranya ya itu, Syifa,” tuturnya. ***
Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.
Follow





