Di sini, Usman seperti sedang menyelipkan filsafat cukup ke dalam secangkir kopi; bahwa nikmat menurutnya tidak ditentukan oleh seberapa banyak sesuatu tersedia. Kopi tetap kopi. Ia disebut kopi nikmat justru karena ukurannya tidak berlebihan.
Pada desain kedua, ia menulis:
BA'SO.
Ekarassa nyaman
Polana satobung, banne sajembung.

Kopi dan bakso berbeda. Tetapi keduanya berhenti pada gagasan yang sama: ukuran yang menentukan pengalaman.
Satu cangkir. Satu mangkok. Bukan satu kendi. Bukan seloyang.
Di situlah sajak Usman bertemu dengan wejangan KH. Abd Basith: Jika butuh satu, kenapa minta seribu?
Pertanyaan itu sesungguhnya tidak hanya ditujukan kepada orang yang meminta sesuatu. Ia juga layak diajukan kepada diri sendiri.
Berapa banyak yang kita kejar karena memang membutuhkan, dan berapa banyak yang kita inginkan hanya karena belum merasa cukup?
Manusia sering mengubah kebutuhan menjadi keinginan, lalu keinginan menjadi ukuran keberhasilan.

